Archive for March, 2005

TIPS DAPUR

Thursday, March 31st, 2005

MADU
* Madu menjadi beku dan mengkristal di dalam botol? Taruh botol tadi ke dalam panci atau mangkuk yang telah diisi air mendidih. Biarkan beberapa saat sampai madu terlihat kembali cair, kemudian aduk-aduklah sehingga menjadi rata kembali.
* Agar madu dapat diambil dengan mudah dari botol atau tempatnya, sebaiknya oleskan terlebih dahulu sendok atau alat lainnya dengan minyak sebelum madu dituang.

KLIK - DetailTELUR
* Keluarkan telur dari lemari pendingin kira-kira 15- 20 menit sebelum digunakan.
* Periksa kulitnya untuk melihat kesegarannya. Telur yang baik dan segar umumnya bercahaya dan kasar. Sebaliknya, telur yang sudah lama dan tua, kulitnya berubah halus dan kusam.
* Agar telur rebus mudah dikupas, segera setelah telur matang, ambil dan masukkan ke dalam air dingin. Atau tambahkan satu sendok teh garam ke dalam air untuk merebus telur. Cara lain, sebelum direbus, tusuk salah satu ujung telur dengan jarum.
* Jika ingin menyimpan kuning telur, siram terlebih dahulu kuning telur dengan satu sendok makan air panas.
* Jika tanpa sengaja telur mentah bercampur dengan telur yang matang saat disimpan di lemari pendingin, Anda dapat membedakannya secara cepat dengan cara menggenggamnya. Jika berat, berarti telur itu matang.

KLIK - DetailKENTANG
* Jika Anda membeli kentang, sebaiknya pilih yang bentuknya bagus dan berkulit halus. Hindari kentang yang sudah ada cacatnya, terlihat busuk, dan juga sudah ada bintik-bintik hitamnya.
* Jangan menyimpan kentang berdekatan dengan bawang merah atau bawang bombay. Bawang akan mengakibatkan kentang menjadi cepat busuk. Taruh sebuah apel di dalam kantong penyimpan kentang agar kentang terhindar dari kelembapan yang menjadikannya hitam.

KLIK - DetailJAMUR
* Jika Anda ingin menyimpan jamur, jangan dibersihkan terlebih dahulu. Simpan dalam kantung kertas atau di dalam tempat aslinya. Jangan gunakan kantung plastik atau tempat yang terbuat dari plastik karena menyebabkan lembap dan jamur jadi cepat membusuk.
* Saat membersihkan jamur, hindari menggunakan air karena akan mengurangi rasa nikmatnya. Sebaiknya gunakan sikat untuk menghilangkan kotoran yang ada di jamur.

KLIK - DetailWORTEL
* Pilih yang berukuran sedang, berwarna oranye terang. Jangan pilih yang besar. Hindari yang sudah ada bercak-bercak hitam atau cacat lainnya.
* Untuk menyimpan wortel, sebaiknya hilangkan terlebih dahulu bagian atasnya karena mengandung air yang bisa membuat wortel cepat busuk.
* Jika wortel layu dan kelihatan tidak segar, masukkan sebentar ke dalam air dingin hingga tampak segar kembali.
* Wortel yang sudah dikupas akan lebih manis karena kulitnya yang mengandung rasa pahit telah dihilangkan.

Untuk kue

Thursday, March 31st, 2005

  • Untuk mengetahui baking soda yang kita miliki masih baik atau sudah tak layak pakai, larutkan beberapa sendok teh baking soda ke air. Bila bergelembung, berarti baking soda masih baik.
  • Tak punya cetakan kue dengan aneka bentuk? Jangan buru-buru kecil hati dulu. Anda tetap bisa membuat kue cantik berbentuk hati, kelinci, beruang kecil, dan sebagainya.

    Caranya, mula-mula buat kue dengan bentuk persegi panjang, kemudian potong sesuai bentuk yang diiginkan (bulat, segitiga, setengah lingkaran, dan lainnya). Nah, tinggal "ditempel" ke potongan kue lain sehingga berbentuk sesuai seperti yang diinginkan. Lapisi dengan krim untuk menyembunyikan sambungan.

    Bagaimana dengan sisa potongan kue? Gulung potongan-potongan kue hingga berbentuk bola, taburkan bubuk cokelat, sajikan sebagai ruffles. Hmm, lezat…
    KLIK - Detail 

  • Jangan pernah lupa mencuci buah sebelum dikupas. Ingat, entah sudah berapa tangan yang memegang buah tersebut. Mulai dari dipetik, dikemas, dikirim ke pasar, dan sebagainya. Anda tak ingin makan kuman, kan?
  • Ingin membuat hidangan penutup (dessert) secara cepat? Iris buah anggur menjadi dua bagian, taburkan bagian atasnya dengan gula merah, panggang sampai gula meleleh. Tapi hati-hati, jangan sampai gosong. Nah, dessert Anda sudah siap disajikan dengan yogurt vanilla. Dijamin sedap rasanya!
  • Untuk menghancurkan kulit kue dengan cepat dan praktis, masukkan kue ke dalam plastik, hancurkan kue dengan cara mengulung-gulung serta menekan plastik. Hasilnya, kue hancur, remah-remah kue tak mengotori dapur.
  • Agar kue atau masakan Anda optimal hasilnya, gunakan timbangan dapur. Ini akan membantu sehingga ukuran bahan-bahan yang diperlukan lebih tepat dan menghasilkan kue yang prima!
  • Ada cara aman untuk menyimpan panci yang tak ingin digunakan. Jangan asal tumpuk saja di gudang atau lemari. Sebaiknya, sebelum disimpan, terlebih dahulu oles dengan mentega lalu taburkan tepung di atasnya. Ini akan melindungi panci dari goresan dan kebocoran saat disimpan lama atau dalam keadaan tertumpuk.
  • Anda biasa menyimpan makanan di lemari es dengan menaruhnya di wadah-wadah plastik kecil? Asal tahu saja, hal itu hanya akan memakan tempat! Sebaiknya, gunakan kantong-kantong plastik sebagai gantinya. Kantung plastik dapat membentuk secara fleksibel sehingga memaksimalkan tempat yang digunakan.
  • Jangan cepat-cepat membuang kaleng bekas tuna! Cuci bersih dan simpan untuk digunakan sebagai cetakan kue donat. Bentuknya akan menjadi benar-benar bulat.
    Cara menggunakannya, buka tutup kaleng bagian bawah dan atas, sehingga tinggal kaleng yang bolong yang digunakan. Praktis, kan?
  • Dapur Anda kecil sehingga tidak ada tempat lagi untuk menyimpan panci dan penggorengan? Buatlah gantungan di dinding dan gantung perabot tadi!

Tips Sukses Membuat Adonan Kue

    KLIK - Detail

  1. Selalu gunakan tepung yang sudah disaring untuk membuat segala bentuk/macam adonan kue.
  2. Agar baskom tempat adonan tidak bergerak-gerak ketika Anda sedang mengaduk-aduk adonan, sebaiknya taruh lap atau serbet yang basah di bawah baskom tersebut.
  3. Jika semua bahan yang jenisnya kering telah ditaruh di baskom dan harus diaduk, untuk memudahkan kerja Anda, sebaiknya gunakan mixer.
  4. Sebelum mengaduk adonan menjadi satu, cara yang terbaik adalah lebih dulu mengeluarkan telur, mentega, dan susu dari lemari pendingin. Diamkan beberapa saat agar suhu menjadi normal. Baru kemudian diolah menjadi adonan.
  5. Saat mengaduk adonan untuk pancake, muffin, atau cup cake, jika memungkinkan, masukkan adonan tadi ke dalam tempat air atau ceret yang besar. Ini akan memudahkan Anda ketika harus menuang adonan ke cetakan muffin atau pancake. Jadi, Anda cukup menuangnya ke cetakan yang sudah panas seperti Anda tengah menuang air ke cangkir.
  6. Selalu periksa semua telur yang digunakan. Apakah masih dalam keadaan baik dan segar. Lakukan ini ketika Anda harus memisahkan antara kuning dan putih telur.

Tips Mengocok Telur

KLIK - Detail

  1. Cek dan pastikan tidak ada sama sekali kuning telur yang terbawa.
  2. Putih telur harus berada di luar dalam keadaan temperatur normal. Jangan disimpan di lemari pendingin.
  3. Wadah dan mixer pengocok harus bersih.
  4. Tambahkan sedikit garam pada telur putih. Ini akan membantu putih telur mengembang lebih cepat.
  5. Jika mengocok krim, sebaiknya wadah, alat pengocok, dan krim harus didinginkan terlebih dahulu agar hasilnya prima.
  6. Dinginkan gelas atau baskom stainless steel untuk tempat mengocok telur dengan cara menaruh kantong plastik berisi es batu selama 5 sampai 10 menit.

BERAPA JAM ANAK PERLU TIDUR?

Thursday, March 31st, 2005

BERAPA JAM ANAK PERLU TIDUR?

Tahukah Anda bahwa anak berkurang waktu tidurnya dibanding pada waktu dia masih bayi? Seberapa banyakkah waktu istirahat yang anak butuhkan?

Photo187  Yang jelas, setiap anak berbeda waktu istirahat yang dibutuhkannya. Ada yang perlu banyak, sebaliknya ada juga anak yang sedikit membutuhkan waktu istirahat. Di bawah ini petunjuk umum tentang berapa jam anak membutuhkan tidur dalam sehari.

Jumlah total anak tidur dalam sehari:

Malam Hari Siang Hari Total
2 tahun 10,5 - 12,5  jam 1 - 3   jam 11,5 - 15,5  jam
3 tahun

10,5 - 12,5    jam

1 - 3   jam 11 - 14  jam
4 tahun 10 -12        jam 0 -2,5   jam 10 -13  jam
5 tahun 10 -12        jam 0 - 2,5   jam 10 - 13  jam
6 tahun 10 - 11,5    jam 0 10 - 11,5  jam
7 tahun 9,5 - 11,5   jam 0 9,5 - 11,5  jam
8 tahun 9,5 - 11,5   jam 0 9,5 - 11,5  jam

Catatan di atas berdasarkan tidur anak rata-rata pada umumnya. Jika anak tidur siang lebih lama, ada kecenderungan tidur malamnya lebih sedikit. Begitu pula sebaliknya.
Ada sebagian anak membutuhkan banyak waktu tidur, umumnya lebih dari yang diinginkan orang tua. Tetapi ada juga yang yang kelihatannya kurang waktu tidurnya. Konon, jika seorang anak mempunyai kebiasaan tidur yang kurang, seperti misalnya menolak untuk tidur siang atau enggan tidur sebelum jam 22.00, orang tua akan beranggapan si anak kurang tidur. Padahal, tak demikian halnya. Mungkin si anak memang sangat aktif bergerak dan

ANAK KURANG TIDUR?

Untuk mengetahui apakah si kecil kurang atau cukup tidur, cobalah jawab pertanyaan berikut.

1. Seringkah anak saya tertidur ketika berada di dalam mobil?
2. Seringkah saya membangunkannya pagi hari?
3. Seringkah dia terlihat uring-uringan, menjengkelkan, atau lelah di pagi hari?

Jika jawaban Anda "Ya" atau ada jawaban "Ya" dari salah satu pertanyaan di atas, kemungkinan anak Anda kurang waktu tidurnya sedangkan tubuhnya membutuhkannya. Untuk memenuhi hal itu, cobalah mengubah cara hidup dengan menetapkan jam tidurnya.
Anak prasekolah atau TK membutuhkan waktu tidur malam selama 11 ­12 jam. Jumlah ini akan berkurang dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usai mereka. Bahkan jika mereka telah menjadi remaja, anak tetap membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Sekurang-kurang 9­10 jam sehari. (t.nova)

NO ES KRIM, NO HUJAN-HUJANAN, NO PS…..

Thursday, March 31st, 2005

Banyak pantangan dan larangan yang dibikin oleh para orang tua. Padahal, belum tentu pantangan itu benar secara medis.

Menurut dokter spesialis anak, dr. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Pondok Indah Jakarta, budaya masyarakat kita memang masih budaya lisan. "Masih lebih suka ngomongin isu, percaya mitos yang turun temurun tanpa dasar yang jelas, ketimbang membaca." Contoh mitos yang salah adalah bayi harus dibedong agar kakinya tidak bengkok. Atau jangan di-rontgen, karena biasa menyebabkan kanker.

"Memang susah mengubah media folklore atau takhayul tentang pengetahuan kesehatan ini. Misalnya, rontgen memang bahaya dulu zaman Perang Dunia, soalnya alat rontgen masih kasar. Jumlah unit sinar yang dilepaskan terlalu besar, sehingga banyak dokter dan pasien yang terkena leukimia, kanker. Sekarang sudah sangat canggih, CT Scan, MRI sehingga unit yang dilepaskan kecil sekali. Dalam penelitian, tak pernah ada penderita kanker akibat itu. "
Faiz3 
Tapi, ada juga beberapa yang betul. Misalnya saat diare, hindari serat. "Ini common sense biasa dan memang benar. Kalau lagi mencret, ya jangan dikasih serat tumbuhan. Serat, kan, untuk yang BAB-nya mampet, kalau yang mencret diberi serat, ya tambah mencret."

Melarang atau memantang anak untuk makan, minum atau melakukan suatu kegiatan, bergantung pada beberapa faktor. "Yang penting adalah keadaan kesehatan anak. Pada keadaan tertentu, memang dianjurkan untuk menghindarkan makan, minum atau melakukan kegiatan tertentu," ujarnya. Contohnya, pada saat anak flu. Tentu, tunda keinginan untuk berenang. "Meski ada pula yang malah bilang, berenang saja supaya sembuh," lanjut Adi.

KENALKAN SEMUA ZAT
Sampai usia balita, anak masih bereaksi berlebihan terhadap zat-zat di sekitarnya, baik yang berupa makhluk hidup, seperti virus, kutu rumah, maupun benda-benda lain seperti debu, pewangi ruangan, cat dan sebagainya. Reaksi berlebihan inilah yang disebut alergi.
Oleh karena hidung dan tenggorok merupakan pintu masuk benda sekitar ke dalam badan, maka di daerah itulah biasanya alergi muncul lebih dulu. Terlebih lagi pada anak yang mempunyai gen atau garis keturunan alergi berat. Misalnya eksim, asma, migren.

"Pada anak yang begitu, lebih hebat lagi reaksinya. Sifat alergi adalah periodik, berkala, dan ada saat dimana ia terserang (allergy attack), jadi ada pemicunya (trigger)."
Dasar larangan atau pantangan adalah untuk menghindarkan pemicu sementara tersebut. Misalnya jika anak sedang terserang pilek alergi yang berat disertai infeksi, sebaiknya jangan dulu diberi makanan yang memperberat alergi seperti ikan laut, telur, cokelat. "Tapi itu hanya sementara. Kalau serangannya sudah lewat, jangan terlalu lama memantang, karena malah akan mengganggu selera dan masukan protein." Pada anak yang sedang tumbuh, pada dasarnya memang alergi karena belum pernah berkenalan dengan zat-zat yang ada di alam ini.

Menurut Adi, anak seharusnya dikenalkan kepada semua zat yang ada di alam. "Tentu saja zat yang tidak berbahaya. Badan manusia itu, kan, seperti komputer. Jadi, biarkan anak mengenal semua zat itu, jangan takut terpapar (terekspos) benda-benda di dalam ini, sepanjang kita tahu itu tak berbahaya. Tapi jangan anak sakit dibawa ke mal, berkumpul dengan banyak orang. Sudah pasti kuman juga berkumpul. Atau anak digendong di mal berjam-jam, sehingga over-exposed benda-benda yang baru dikenal."

Intinya, pantangan boleh-boleh saja asal tepat, supaya proses penyembuhan, jika kondisi anak sedang tak bagus, tidak lama. "Terkadang don’t-nya benar, tapi berlebihan. Orang tua over protektif, misalnya. Anak dijadikan seperti benda antik, tak pernah dibawa keluar. Sayang juga, karena ia akhirnya tidak terpapar secara alamiah." Pantangan yang tepat akan mencegah hal-hal ringan menjadi berat. Apa saja pantangan yang biasa diberikan orang tua?

ENGGAK BOLEH MAKAN ES KRIM
Pantangan ini benar bagi anak yang alergi dingin. Pemicu alergi ada bermacam-macam. Ada yang udara/benda dingin, atau sebaliknya. Ada juga yang dipicu debu, bulu binatang, dan sebagainya. Pada kasus anak sedang pilek batuk karena alergi dingin, ya hindarkan es krim. "Es krimnya sendiri sebetulnya bagus dan bermanfaat. Selain enak, banyak susu dan proteinnya, juga segar, apalagi untuk iklim di daerah tropis." Kalau anak sehat, tidak apa-apa asal jangan kebanyakan. Pada saat serangan, dianjurkan stop dulu 2-3 hari. Es krim cokelat, cokelatnya sebaiknya dihindari karena memicu alergi pada anak yang alergi cokelat.

ENGGAK BOLEH MAKAN MI INSTAN
Untuk anak-anak yang alergi, memang tidak begitu bagus, karena sekarang kebanyakan sudah dicampur dengan MSG. "Sebaiknya bikin sendiri dari mi yang tidak dicampur MSG, lalu gunakan kuah daging." Untuk anak yang sehat enggak apa-apa. "Soal banyak-sedikitnya, kan, dalil umum. Apa-apa kalau kebanyakan, kan, enggak baik juga.

ENGGAK OLEH MAKAN PERMEN
Makan permen sebetulnya tidak apa-apa, asal anak diajarkan berkumur atau menggosok gigi setelah makan permen, karena gula yang terkandung bisa merusak gigi. Yang penting, jangan terlalu banyak. Sekarang ada permen yang tidak merusak gigi dan tidak memicu batuk. "Lebih baik begitu ketimbang melarang anak makan permen. Melarang, kan, enggak mungkin."

Atau pilih permen yang tidak terlalu banyak mengandung gula. "Tapi agak susah karena umumnya gulanya itu yag disukai anak-anak."

ENGGAK BOLEH BERENANG
"Berenang pun sama, asal jangan terlalu lama, enggak apa-apa. Paling setengah atau sejam. Banyak orang tua yang melarang anak berenang, padahal alasannya enggak jelas. "Enggak boleh berenang, soalnya kalau habis berenang, anak saya pasti sakit. Ini enggak benar juga, berenang itu, kan, bagus. Yang penting adalah bagaimana setelah berenang."

Dalil umum tetap berlaku, jangan terlalu lama atau jangan berenang di udara yang sangat dingin. "Kalau sampai lima jam berenang, ya anak pasti akan biru. Berenang di udara yang sangat dingin juga sama saja mandi di rumah di bathtub dikasih es."

ENGGAK BOLEH HUJAN-HUJANAN
Hujan-hujanan justru sangat positif karena anak mendapatkan pengalaman hidup di alam terbuka (general outbond life). "Anak yang tinggal di perkotaan sangat kering dengan pengalaman yang bersentuhan dengan alam.

Enggak pernah merasakan pengalaman betul-betul di alam. Hujan itu, kan, alamiah sekali. "
Jadi, tidak apa-apa anak mandi hujan asal orang tua tahu mengatasinya. "Setengah jam saja hujan-hujanan, setelah itu segera mandi, keringkan tubuh, dan gosok tubuh anak dengan kayu putih. Biarkan anak merasakan itu." Atau sebelum hujan-hujanan, olesi tubuh anak dengan kayu putih, minum susu, baru hujan-hujanan." Kecuali, memang ada beberapa jenis hujan yang berbahaya, misalnya hujan asam (acid rain), biasanya di daerah dekat cerobong asap pabrik dan hujan yang disertai petir.

ENGGAK BOLEH MAIN PS
PS bisa merusak mata. Penelitian di Jepang membuktikan bahwa main PS sampai berjam-jam, biasa berdampak buruk. Pasalnya, gelombang yang keluar dari layar teve atau PS, intensitasnya sangat padat. Apalagi, sekarang resolusinya sangat tajam. Sinar yang keluar lebih ofensif. "Boleh main tapi jangan kelamaan. Teve, kan, banyak membawa edukasi, PS juga. Soal bahasa, motorik, koordinasi, audiovisual. Cuma jangan game yang berisi kekerasan. Message-nya juga jangan yang destruktif. Harus imbang antara psikis dan fisik," saran Adi.
(t.nova)

“Duh, Si Kecil Tak Bisa Disiplin…”

Thursday, March 31st, 2005


Disiplin? Tentu, perlu. Tapi, tak semua orang tua tahu cara mengajarkan disiplin pada anak. Ah, sebelum terlambat, kinilah saatnya Anda mengajarkan kepada buah hati Anda.

Disiplin adalah bagian dari perilaku popsitif yang idealnya dimiliki setiap orang. Kapan mengajarkan disiplin? Sejak dini, sejak anak masih kecil. Orang tualah yang bertanggung jawab untuk mengenalkan dan membentuk disiplin pada anak-anak mereka. Caranya ada banyak. Bisa dimulai dari mengajar anak untuk berdisiplin terhadap diri dan kegiatannya. Misalnya, mengatur waktu kapan belajar, kapan menonton teve, dan sebagainya. Pendekatan yang baik dan tepat akan membuat anak memahami, apa yang hendak diberikan orang tua. Bagaimana mendisiplinkan anak sesuai usianya?

Usia 0-2 tahun
Anak seusia ini selalu memiliki rasa ingin tahu yang alami. Cara terbaik untuk mengajarkan disiplin adalah dengan menghilangkan godaan-godaan di sekeliling mereka. Jagalah lingkungan sekitar anak, misalnya menyingkirkan perangkat video, stereo, juga bahan-bahan pembersih yang mengandung zat kimia serta obat-obatan. Jika anak mendekati tempat yang tak dapat ia capai atau tempat berbahaya, katakan "jangan" dengan lembut, dan pindahkan dia dari tempat itu. Lalu, alihkan perhatiannya dengan aktivitas yang menarik.

Menasihati anak usia ini bisa menjadi cara mendisiplinkan yang pas jika usaha menarik perhatian Anda tidak berhasil. Anak yang sering memukul, menggigit, dan melemparkan makanan misalnya, harus diberitahu kenapa perilaku tersebut tidak benar. Sebaiknya, jauhkan ia dari kebiasaannya itu dan tenangkan di tempat yang nyaman.

Photo84  Jangan pernah memukul atau menampar anak di usia ini. Bayi dan anak kecil sering tidak dapat mengerti apa hubungan perilaku mereka dengan hukuman. Jika Anda memukulnya, ia hanya akan merasakan sakit. Jangan lupa, anak akan belajar dari melihat perilaku Anda. Pastikan perilaku Anda menjadi contoh yang baik.

Usia 3-5 tahun
Ketika anak mulai tumbuh dan memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi, pastikan Anda mulai menciptakan aturan-aturan yang berlaku di rumah. Jelaskan pula, apa yang Anda harapkan dari mereka sebelum Anda menghukum mereka untuk perilaku tertentu.

Contohnya, ketika anak mencoretkan crayon di dinding ruang tamu, Anda harus mendiskusikan, kenapa hal itu tak boleh ia lakukan, dan jelaskan apa yang akan terjadi jika ia melakukannya lagi. Jelaskan pada mereka bahwa mereka harus membantu membersihkan dinding dan tak boleh menggunakan crayon-nya lagi. Jika ia melakukannya lagi dengan crayon tersebut di dinding, ingatkan bahwa crayon digunakan untuk menggambar di kertas dan tekankan konsekuensinya jika ia melakukannya di dinding lagi.

Lebih dini orang tua mendisiplinkan tindakan dan konsekuensi ini, hasilnya akan lebih baik. Meski ada kalanya orang tua lebih mudah tidak memedulikan perilaku buruk anak, atau memberikan hukuman, yang malah akan menciptakan kebiasaan buruk. Konsisten adalah kunci efektif dalam hal menerapkan disiplin. Orang tua harus membuat peraturan dan konsisten terhadapnya.

Bersamaan dengan menentukan perilaku bagaimana yang harus dihukum, jangan lupa beri penghargaan pada perilaku positif. Disiplin bukan sekadar hukuman. Orang tua perlu mengenali perilaku yang baik. Contohnya, Anda dapat mengatakan, "Ibu bangga padamu yang mau meminjamkan mainan pada teman-teman." Pujilah secara spesifik perilaku anak Anda. Jangan sekadar mengucapkan kata "bagus."

Usia 6-8 tahun
Waktu istirahat dan konsekuensi merupakan dua hal efektif dalam mendisiplinkan anak usia ini. Sekali lagi, konsekuensi adalah hal yang penting. Peganglah janji. Anak harus percaya bahwa yang Anda katakan adalah yang Anda maksudkan, tanpa ada kebohongan. Anda harus konsisten dengan apa yang Anda katakan.

Hati-hati, jangan membuat hukuman yang mengada-ada, misalnya, "Kalau kamu menutup pintu keras-keras, kamu tak boleh menonton teve selamanya!" Contoh lain, jika tiba-tiba anak menangis atau marah-marah di mobil dalam perjalanan berlibur, lalu Anda mengancam akan berputar kembali ke rumah jika ia terus menangis, pastikan Anda benar-benar melakukannya. Kehilangan kesempatan pergi ke suatu tempat tidak ada artinya dibandingkan menunjukkan kredibilitas Anda di depan anak.

Hukuman yang besar akan menghilangkan kekuatan Anda sebagai orang tua. Jika Anda menghukum anak Anda sebulan penuh, ia tidak akan termotivasi untuk mengubah perilakunya karena ia merasa semua haknya telah hilang.

Usia 9-12 tahun
Anak di usia ini, sama seperti lainnya, dapat diajarkan disiplin dengan konsekuensi yang alamiah. Sejalan dengan kedewasaan serta tuntutan kemandirian dan tanggung jawabnya, mengajari mereka menghadapi konsekuensi atas perilakunya adalah metode disiplin yang efektif. Contohnya, ketika anak yang duduk di kelas 5 SD tidak mengerjakan pekerjaan rumahya sebelum tidur, haruskah Anda menyuruhnya tetap bangun atau menolongnya menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut?

Sebaiknya Anda tidak menolongnya. Karena jika Anda membantunya mengerjakan pe-er, maka Anda tidak akan memberi kesempatan belajar dalam hidupnya. Jika ia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya lebih awal, ia akan pergi ke sekolah keesokan harinya dengan mendapatkan nilai yang jelek. Ini akan menyelamatkan anak Anda dari kesalahan selanjutnya. Dan paa akhirnya, ia akan mengetahui perilaku yang baik itu seperti apa, dan tidak akan melakukan kesalahan lagi. Namun, jika anak terlihat tidak mempelajari konsekuensinya, Anda harus membuat konsekuensi yang Anda buat sendiri untuk menolong mereka mengatur perilakunya dengan efektif.

Usia 13 tahun ke atas
Anak pada usia ini telah mengetahui apa yang ia inginkan dan tahu apa maksud perkataan Anda tentang konsekuensi. Namun, jangan memperlemah penjagaan. Disiplin tetap penting, apalagi bagi anak yang menginjak usia remaja. Seperti anak usia 4 tahun yang membutuhkan waktu tidur yang tepat, anak remaja pun harus mengetahui batas-batas. Pastikan Anda membuat peraturan yang menyangkut waktu mengerjakan pekerjaan rumah, waktu kunjungan teman, jam malam, serta diskusikan apa yang terbaik baginya sebelum terjadi kesalahpahaman. Anak, meskipun sering memprotes sesuatu, akan menyadari bahwa ia berada dalam pengawasan.

Percaya atau tidak, remaja masih menginginkan dan membutuhkan Anda untuk menentukan batas-batas dan menetapkan perintah dalam hidupnya, meskipun Anda mengizinkan mereka memiliki kebebasan dan tanggung jawab.

Ketika anak keluar dari peraturan, menghilangkan hak istimewa mereka dapat menjadi jalan yang baik. Ketika Anda mengizinkan anak boleh belajar ke rumah teman selama seminggu terus-terusan misalnya, pastikan Anda mendiskusikan dengan mereka kenapa pulang lewat jam malam tidak dapat diterima dan dapat membuat khawatir.

Penting juga untuk memberi kontrol pada kehidupan remaja. Hal ini seringkali memang menimbulkan perlawanan, tapi ini akan menolong mereka menghargai keputusan yang harus Anda buat untuk mereka. Anda dapat mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri yang berkaitan dengan pakaian, model rambut, atau kondisi kamar. Ketika ia beranjak makin dewasa, ia akan mampu mengontrol dirinya atas kegiatannya sendiri.

NONTON TEVE? BOLEH, KOK
Saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton televisi dibandingkan kegiatan lain selain tidur. Berbagai tayangan televisi lebih menarik perhatian mereka daripada membaca buku atau melakukan aktivitas lainnya untuk mengisi waktu luang mereka. Kebiasaan menonton televisi daam waktu lama akan menciptakan pola hidup tidak sehat. Kebiasaan makan sambil menonton televisi, misalnya, bisa menciptakan obesitas pada anak.

Untuk membantu orang tua mengajari anak menonton televisi secara benar, tips berikut bisa dicoba:

1. Beri batasan.
Ketahuilah, berapa banyak acara teve yang dilahap anak, dan jangan ragu untuk mengurangi waktunya. Banyak anak yang tidak mau begitu saja meninggalkan televisi. Orang tua lebih baik membatasi lamanya anak menonton televisi 1-2 jam per hari.

2. Minimalkan pengaruh televisi di rumah.
Selalu matikan televisi saat acara makan bersama keluarga. Jadikan komunikasi atau obrolan menjadi prioritas di rumah. Jangan menempatkan ruang berkumpul keluarga menjadi ruang menonton televisi. Hindari kondisi dimana anak-anak memiliki televisi masing-masing di kamarnya, karena hal ini akan meminimalkan interaksi dalam keluarga.

Photo189  3. Gantilah televisi dengan perangkat teknologi lain.
Gunakan perangkat video player atau CD player untuk menonton film. Sewalah film anak atau film keluarga, yang bermuatan pendidikan, lalu tontonlah bersama-sama.

4. Rencanakan atau pilih acara televisi yang baik untuk ditonton.
Pilihlah film atau acara teve yang Anda pikir baik untuk ditonton seluruh anggota keluarga. Anda dapat memilihnya melalui jadwal acara televisi di surat kabar. Anda juga bisa melihat program acara apa yang ratingnya baik dan mendidik untuk ditonton keluarga.

5. Jangan menggunakan televisi sebagai bagian dari hukuman atau penghargaan bagi anak.
Ini akan membuat televisi menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan anak.

6. Menontonlah bersama anak.
Bantulah anak untuk menginterpretasikan acara apa yang ia tonton bersama Anda. Gunakan televisi sebagai bahan diskusi mengenai banyak hal, seperti perilaku, pekerjaan, juga masalah-masalah yang membingungkan. Ajari anak untuk selalu bertanya dan belajar
tentang apa yang ia saksikan.

7. Beri alternatif.
Orang tua bertanggung jawab pada apa yang anak saksikan melalui televisi. Berikan kegiatan pilihan lain seperti kegiatan dalam rumah dan luar rumah, misalnya jalan-jalan, permainan, olahraga, hobi, juga membaca. Bisa juga membuat jadwal khusus untuk berolah raga bersama.

8. Manfaatkan terpaan tayang iklan televisi.
Jangan menghindari iklan-iklan di televisi mengenai mainan, makanan dan minuman ringan. Sebaliknya, manfaatkan iklan untuk membantu anak membangun kebiasaan makan yang sehat, misalnya, atau menjadi konsumen yang pintar dengan memilih makanan yang tepat.
Jika tips-tips dilakukan, orang tua dapat mengajarkan anak untuk melihat sisi positif televisi dan menghindari potensi negatifnya. Anak akan mendapat manfaat besar dari televisi.

JANGAN MENAMPAR!
Menampar atau memukul adalah cara mendisiplinkan yang kontroversial. American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menyetujui cara kekerasan seperti menampar, dalam kondisi apa pun. Kenapa?

1. Menampar akan mengajarkan anak bahwa ia boleh memukul ketika marah.

2. Tamparan akan menyakiti anak secara fisik.

3. Menampar tidak mengajarkan anak untuk mengubah perilaku salah mereka, melainkan akan membuat mereka takut pada orang tuanya, sehingga mereka selalu menghindar takut tertangkap basah.

4. Pada kasus anak yang suka mencari perhatian dengan berperilaku berlebihan, menampar secara tidak disengaja akan membuat mereka merasa mendapat perhatian. Mereka merasa, perhatian negatif lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali.(t.nova)

PONCO PENGHANGAT TUBUH

Thursday, March 31st, 2005


KLIK - Detail

Di musim hujan ini tentu penghangat yang diperlukan bagi tubuh Anda. Ponco yang dibuat dari bahan kaos ukuran besar ini memang cantik tampilannya. Selain itu dapat membuat Anda jadi lebih gaya.

BAHAN DAN ALAT:
Kaos, benang sulam, hiasan aplikasi, jarum dan benang, gunting, jarum pentul.

KLIK - DetailCARA MEMBUAT:
1. Gunting bahan kaos dengan ukuran 58 X 58 cm sebanyak 2x.
2. Satukan kemudian sematkan dengan jarum pentul.
3. Gunting bagian ujung kaos untuk leher seperti pada gambar.
4. Jahit bagian A (lihat gambar).
5. Buat tusuk feston pada keliling leher dan sisi bawah kiri dan kanan kaos, dengan benang sulam warna kontras.
6. Pasang rumbai pada bagian sisi bawah kaos.
7. Pasang juga hiasan aplikasi di bagian tengah kaos, rapikan.

Kreasi: Indah PermataSari

KLIK - Detail KLIK - Detail
KLIK - Detail KLIK - Detail

Udang Bumbu Bali

Thursday, March 31st, 2005

KLIK - DetailBahan:
500 gr udang sedang, kupas, tinggalkan ekornya
200 ml santan
1/2 sdm garam
1 cm lengkuas, memarkan
2 lbr salam
3 lbr daun jeruk
2 buah tomat, masing-masing potong 8 bagian
minyak goreng

Bumbu halus:
7 buah cabai merah
5 buah bawang merah
4 siung bawang putih
2 cm jahe
3 buah kemiri

Cara Membuat:
1. Campur udang dengan garam, aduk rata. Diamkan sebentar, sisihkan.
2. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, masukkan lengkuas, salam, daun jeruk, dan tomat.
3. Masukkan udang, masak hingga berubah warna. Tuang santan dan tomat, aduk agar santan tidak pecah. Masak hingga bumbu meresap dan mengental, angkat.
4. Sajikan.

Untuk 4 porsi

Si Hijau Lembut

Wednesday, March 30th, 2005

KLIK - DetailBahan:
100 gr tepung beras
1 sdt garam
650 ml santan
2 lbr daun pandan, sobek-sobek
pewarna hijau

Saus santan:
500 ml santan kental
150 gr gula pasir putih
1 lbr daun pandan, sobek-sobek
1/2 sdt garam

Cara membuat:
1. Campur tepung beras dengan sebagian santan, aduk rata.
2. Masak sisa santan bersama daun pandan, garam dan pewarna hijau hingga mendidih.
3.Tuang larutan tepung beras sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kental dan mendidih, angkat.
4.Saus santan: masak semua bahan hingga mendidih dan gula larut, angkat.
5. Sajikan bubur dengan saus santan.

Untuk 4 porsi

TAS PLUS WADAH PAYUNG

Wednesday, March 30th, 2005



KLIK - Detail Musim hujan belum juga usai. Jika perlengkapannya belum ada, masih ada kesempatan untuk membuatnya. Kreasi tas sekaligus wadah payung ini sangat praktis dibawa kemana-mana.

BAHAN DAN ALAT:
Plastik vinil corak (warna) dan transparan (bening), kancing jepret, karton manila, jarum dan benang jahit serta gunting.

KLIK - Detail CARA MEMBUAT:

1. Buat pola dasar di atas karton lalu cetak di atas plastik warna sebanyak 2 lembar.
2. Potong plastik transparan ukuran 26 x 40 cm dan 6 x 40 cm, masing-masing sebanyak 2 kali. Lebihkan 1 cm untuk dijahit. Pasangkan kancing jepret pada tepi plastik.
3. Satukan seluruh bagian dengan cara menjahit plastik pada permukaan depan dan belakang pola dasar juga kiri dan kanannya.
4. Potong plastik warna/corak ukuran 11 x 26 cm sebanyak 1 kali lalu jelujur seluruh sisinya.
5. Pasang plastik warna di salah satu permukaan tas tepat di bagian bawah (plastik bening). Jika dilipat ke arah atas, gunakan plastik warna sebagai penutup juga (lihat gambar)

KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail
KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail

8 Alasan Si Pintar Gagal di Sekolah

Wednesday, March 30th, 2005


Intelegensi saja ternyata tak menjamin prestasi belajar anak di sekolah mengkilap bak mutiara. Terkadang, si pintar pun bisa gagal, bahkan terancam tak naik kelas karena sebab lain.

Anti sangat cerdas. Nilai-nilainya cemerlang di awal-awal ia masuk sekolah dasar. Namun, menginjak kelas 3, prestasinya mendadak jauh menurun. Bahkan, bocah 9 tahun ini terancam tak naik kelas. Ibu Anti pun bolak-balik memenuhi panggilan dari guru kelas putrinya, hanya untuk mendiskusikan nilai akademik Anti yang "terjun bebas" itu. Seribu pertanyaan pun berkecamuk di benak orang tua Anti.

Menurut ahli, intelegensi bukan satu-satunya faktor penentu prestasi belajar anak di sekolah. Bisa jadi, anak yang cerdas, nilai rapornya jeblok. Orang tua dan guru harus mencermati, penyebab prestasi anak di sekolah jadi menurun. Dan memang, ada banyak sebab. Nah, jika anak Anda mengalami hal serupa Anti, perhatikan, jangan-jangan salah satu penyebab berikut ini terjadi pada anak Anda.

Photo198  1. TAK BISA ME-MANAGE DIRI
Bagaimanapun, kemampuan me-manage diri harus dimiliki dan dipelajari anak, terlebih tatkala ia beranjak semakin besar. Membangun kemampuan untuk mengorganisasi diri sangat penting, agar anak dapat mengatur semua kegiatannya. Apa saja yang seharusnya bisa dilakukan anak?

a. Waktu
Semakin besar anak, mestinya ia harus mampu mengatur waktu. Misalnya, kapan waktu untuk mengerjakan pe-er ataumengerjakan tugas-tugas sekolah, kapan ia boleh bermain dan beristirahat, kapan ia harus makan, kapan waktu untuk beribadah, dan sebagainya. Anak juga harus belajar mengorganisir waktu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau kegiatan yang butuh waktu lama, misalnya mengerjakan tugas kelompok, dan sebagainya. Kemampuan me-manage diri ini akan sangat memengaruhi hasil yang dicapai. Jika anak tahu kapan harus belajar, pasti ia akan siap menghadapi ujian, misalnya.

b. Peralatan sekolah dan mainan
Jika anak tidak mampu merapikan barang-barang miliknya, misalnya kamar, buku pelajaran, buku catatan, kertas-kertas tugas, mainan, dan sebagainya, tentu ia juga tak bakal mampu mengerjakan hal-hal yang menjadi tugasnya. Anak yang tak mampu mengerjakan pe-er, tentu akan susah membuat kemajuan di sekolahnya.

c. Ruangan
Meja belajar yang berantakan adalah ladang bagi berbagai gangguan, yang bisa membuat anak jadi sulit berkonsentrasi saat belajar. Anak pun tak bakal bisa menemukan barang-barang atau catatan penting yang terselip di antara tumpukan kertas dan buku, tatkala ia membutuhkannya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Bagaimana Anda dapat menolongnya?

1. Berikan anak buku catatan, di mana ia dapat menulis apa saja tugas dan pe-er yang harus ia kerjakan setiap hari.
2. Bantu ia mengatur waktu untuk tugas-tugas sekolah dan rumahnya. Jangan lupa, Anda harus memastikan bahwa semua pengaturan waktu berjalan baik.
3. Gunakan kalender untuk membagi waktu pengerjaan tugas sekolah yang butuh waktu lama. Ini akan menunjukkan pada anak, apa yang ia butuhkan untuk dikerjakan dan kapan
menyelesaikan tugas tersebut. Setelah anak menyelesaikan setiap tugas, beri tanda silang pada kalender untuk memberinya perasaan puas. Jangan lupa, beri ia pujian.

2. SERING ABSEN
Bagaimanapun, membolos atau absen akan berdampak negatif pada nilai akademik anak. Yang harus diperhatikan, jika anak tiba-tiba enggan masuk sekolah, padahal tak pernah ia mogok sebelumnya. Tugas Anda-lah untuk mengetahui penyebabnya.

Bicaralah pada anak untuk menemukan masalahnya. Bisa jadi, Anda akan menemukan bahwa ternyata anak mempunyai masalah dengan guru atau teman-temannya di sekolah. Bisa jadi, gaya disiplin gurunya sangat membuat ia takut. Atau, si kecil menjadi sasaran pemerasan temannya. Cari tahu apa yang terjadi, kemudian jadwalkan pertemuan dengan guru untuk mendiskusikan masalah dan solusinya.

3. TERLALU BANYAK KEGIATAN

Bisa jadi, ibu Anti tak bisa menemukan alasan penurunan prestasi buah hatinya, padahal mungkin jawabannya ada di depan mata, yaitu pada kalender yang terisi penuh dengan jadwal kegiatan. Di antara waktu pergi sekolah, bermain, dan mengerjakan pe-er, Anti ternyata mempunyai seabreg jadwal sepulang sekolah. Ikut latihan menari, kursus musik, berenang, kumon, dan sebagainya. Alhasil, ia tidak lagi mempunyai waktu untuk melengkapi tugas pekerjaan rumahnya ataupun untuk belajar.

Bagaimana ia punya waktu untuk mengerjakan pe-er, jika ia harus kursus musik, kemudian matematika, dan sebagainya sepulang sekolah. Bagaimana ia bisa belajar di malam hari, sementara tenaganya sudah habis terkuras untuk kegiatan di siang harinya.

Sebelumnya, kegiatan yang super-banyak ini membanggakan ibu Anti. Namun, setelah setelah melihat dampaknya, ia pun membatasi kegiatan Anti dan mendahulukan urusan sekolah.

4. HOBI NGOBROL DI TELEPON
Semakin besar anak, semakin banyak pula temannya dan semakin luas pula jejaring sosialnya. Tak jarang, untuk bersosialisasi dengan teman, anak menggunakan sarana telepon. Bersosialisasi memang bagus, tapi kalau kelamaan menelepon, selain pulsa membengkak, waktu si anak pun habis hanya untuk bertelepon-ria.

Cegah anak menghamburkan pulsa dan waktunya dengan membatasi nomor yang dipanggil. Batasi pula waktu yang ia pakai untuk menelepon masing-masing temannya tersebut. Misalnya, beri ia waktu 2-3 menit. Telepon sebaiknya juga dikunci selama jam-jam ia mengerjakan pe-er dan belajar.

5. ADA MASALAH DI RUMAH
Anak-anak selalu sensitif pada masalah-masalah yang terjadi di rumahnya.Jangan heran jika anak tiba-tiba berubah sikap setelah melihat orang tuanya bertengkar. Jadi, jika Anda dan suami sering bertengkar atau jika salah satu dari Anda baru kehilangan pekerjaan, sebaiknya bicarakan dengan anak apa yang sebetulnya terjadi. Terangkan bahwa perubahan yang terjadi pasti akan berakibat padanya secara langsung. Tapi jangan lupa untuk meyakinkan dirinya bahwa Anda akan selalu ada untuk menjaganya.

6. TEKANAN TEMAN MAIN

Anak yang sedang beranjak besar selalu takut bila dirinya tidak disukai dan dijauhi teman-temannya. Ketakutan dibenci teman-temannya jika ia menjadi nomor satu atau lain dari teman-temannya dapat terjadi di mana pun pada anak yang beranjak besar. Akibatnya, anak akan menghentikan usahanya untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya.

Ini memang bukan soal mudah bagi orang tua. Anda tentu tak bisa mendesak anak untuk mengubah perilaku atau temannya. Daripada mencoba-coba, lebih baik arahkan anak untuk melakukan aktivitas yang memberinya kesempatan untuk berkembang.

Beri anak kesempatan untuk merasakan menjadi pribadi yang unggul. Caranya, beri pujian tatkala ia berhasil melakukan sesuatu lebih dari yang lain. Para ahli juga merekomendasikan orang tua agar mendorong anak untuk bergabung dalam aktivitas ekstrakurikuler yang diikuti oleh murid-murid terbaik. Seringkali, lingkungan mendorong anak untuk jadi lebih baik karena ia seringkali ingin membuat lingkungannya terkesan pada dirinya.

7. PUNYA MASALAH BELAJAR
Jika anak menunjukkan keinginan untuk mengerjakan sesuatu atau mengerjakan pe-er dengan baik, namun tiba-tiba Anda menemukan anak menjadi sangat frustasi kala ia tak dapat melakukannya sesuai yang ia inginkan, pertimbangkan dengan serius untuk memberikan tes tentang kesulitan belajar. Bisa jadi, ia punya kesulitan untuk belajar. Dan jika ini yang terjadi, tak ada salahnya menghubungi seorang psikolog atau ahli.

8. TEKANAN ORANG TUA
Orang tua, tanpa disadari, seringkali menuntut terlalu banyak dari anak. Tentu saja, tak salah melibatkan diri dalam urusan pendidikan anak. Namun, para ahli berpendapat, keterlibatan orang tua yang terlalu jauh hanya akan menciptakan masalah. Tekanan dan tuntutan orang tua yang seringkali terlalu besar bisa-bisa menjadi "bom waktu" yang tak diinginkan. Bahkan, bisa jadi, tuntutan ini akan "membelokkan" prestasi anak menjadi di bawah nilai rata-rata. Untuk mencegah hal ini, pastikan bahwa anak mempunyai jadwal yang seimbang untuk semua kegiatannya, dari mulai sekolah, membuat pe-er, mengerjakan tugas, dan juga waktu untuk bermain dan hanya untuk bersenang-senang. (t.nova)