8 Alasan Si Pintar Gagal di Sekolah


Intelegensi saja ternyata tak menjamin prestasi belajar anak di sekolah mengkilap bak mutiara. Terkadang, si pintar pun bisa gagal, bahkan terancam tak naik kelas karena sebab lain.

Anti sangat cerdas. Nilai-nilainya cemerlang di awal-awal ia masuk sekolah dasar. Namun, menginjak kelas 3, prestasinya mendadak jauh menurun. Bahkan, bocah 9 tahun ini terancam tak naik kelas. Ibu Anti pun bolak-balik memenuhi panggilan dari guru kelas putrinya, hanya untuk mendiskusikan nilai akademik Anti yang "terjun bebas" itu. Seribu pertanyaan pun berkecamuk di benak orang tua Anti.

Menurut ahli, intelegensi bukan satu-satunya faktor penentu prestasi belajar anak di sekolah. Bisa jadi, anak yang cerdas, nilai rapornya jeblok. Orang tua dan guru harus mencermati, penyebab prestasi anak di sekolah jadi menurun. Dan memang, ada banyak sebab. Nah, jika anak Anda mengalami hal serupa Anti, perhatikan, jangan-jangan salah satu penyebab berikut ini terjadi pada anak Anda.

Photo198  1. TAK BISA ME-MANAGE DIRI
Bagaimanapun, kemampuan me-manage diri harus dimiliki dan dipelajari anak, terlebih tatkala ia beranjak semakin besar. Membangun kemampuan untuk mengorganisasi diri sangat penting, agar anak dapat mengatur semua kegiatannya. Apa saja yang seharusnya bisa dilakukan anak?

a. Waktu
Semakin besar anak, mestinya ia harus mampu mengatur waktu. Misalnya, kapan waktu untuk mengerjakan pe-er ataumengerjakan tugas-tugas sekolah, kapan ia boleh bermain dan beristirahat, kapan ia harus makan, kapan waktu untuk beribadah, dan sebagainya. Anak juga harus belajar mengorganisir waktu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau kegiatan yang butuh waktu lama, misalnya mengerjakan tugas kelompok, dan sebagainya. Kemampuan me-manage diri ini akan sangat memengaruhi hasil yang dicapai. Jika anak tahu kapan harus belajar, pasti ia akan siap menghadapi ujian, misalnya.

b. Peralatan sekolah dan mainan
Jika anak tidak mampu merapikan barang-barang miliknya, misalnya kamar, buku pelajaran, buku catatan, kertas-kertas tugas, mainan, dan sebagainya, tentu ia juga tak bakal mampu mengerjakan hal-hal yang menjadi tugasnya. Anak yang tak mampu mengerjakan pe-er, tentu akan susah membuat kemajuan di sekolahnya.

c. Ruangan
Meja belajar yang berantakan adalah ladang bagi berbagai gangguan, yang bisa membuat anak jadi sulit berkonsentrasi saat belajar. Anak pun tak bakal bisa menemukan barang-barang atau catatan penting yang terselip di antara tumpukan kertas dan buku, tatkala ia membutuhkannya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Bagaimana Anda dapat menolongnya?

1. Berikan anak buku catatan, di mana ia dapat menulis apa saja tugas dan pe-er yang harus ia kerjakan setiap hari.
2. Bantu ia mengatur waktu untuk tugas-tugas sekolah dan rumahnya. Jangan lupa, Anda harus memastikan bahwa semua pengaturan waktu berjalan baik.
3. Gunakan kalender untuk membagi waktu pengerjaan tugas sekolah yang butuh waktu lama. Ini akan menunjukkan pada anak, apa yang ia butuhkan untuk dikerjakan dan kapan
menyelesaikan tugas tersebut. Setelah anak menyelesaikan setiap tugas, beri tanda silang pada kalender untuk memberinya perasaan puas. Jangan lupa, beri ia pujian.

2. SERING ABSEN
Bagaimanapun, membolos atau absen akan berdampak negatif pada nilai akademik anak. Yang harus diperhatikan, jika anak tiba-tiba enggan masuk sekolah, padahal tak pernah ia mogok sebelumnya. Tugas Anda-lah untuk mengetahui penyebabnya.

Bicaralah pada anak untuk menemukan masalahnya. Bisa jadi, Anda akan menemukan bahwa ternyata anak mempunyai masalah dengan guru atau teman-temannya di sekolah. Bisa jadi, gaya disiplin gurunya sangat membuat ia takut. Atau, si kecil menjadi sasaran pemerasan temannya. Cari tahu apa yang terjadi, kemudian jadwalkan pertemuan dengan guru untuk mendiskusikan masalah dan solusinya.

3. TERLALU BANYAK KEGIATAN

Bisa jadi, ibu Anti tak bisa menemukan alasan penurunan prestasi buah hatinya, padahal mungkin jawabannya ada di depan mata, yaitu pada kalender yang terisi penuh dengan jadwal kegiatan. Di antara waktu pergi sekolah, bermain, dan mengerjakan pe-er, Anti ternyata mempunyai seabreg jadwal sepulang sekolah. Ikut latihan menari, kursus musik, berenang, kumon, dan sebagainya. Alhasil, ia tidak lagi mempunyai waktu untuk melengkapi tugas pekerjaan rumahnya ataupun untuk belajar.

Bagaimana ia punya waktu untuk mengerjakan pe-er, jika ia harus kursus musik, kemudian matematika, dan sebagainya sepulang sekolah. Bagaimana ia bisa belajar di malam hari, sementara tenaganya sudah habis terkuras untuk kegiatan di siang harinya.

Sebelumnya, kegiatan yang super-banyak ini membanggakan ibu Anti. Namun, setelah setelah melihat dampaknya, ia pun membatasi kegiatan Anti dan mendahulukan urusan sekolah.

4. HOBI NGOBROL DI TELEPON
Semakin besar anak, semakin banyak pula temannya dan semakin luas pula jejaring sosialnya. Tak jarang, untuk bersosialisasi dengan teman, anak menggunakan sarana telepon. Bersosialisasi memang bagus, tapi kalau kelamaan menelepon, selain pulsa membengkak, waktu si anak pun habis hanya untuk bertelepon-ria.

Cegah anak menghamburkan pulsa dan waktunya dengan membatasi nomor yang dipanggil. Batasi pula waktu yang ia pakai untuk menelepon masing-masing temannya tersebut. Misalnya, beri ia waktu 2-3 menit. Telepon sebaiknya juga dikunci selama jam-jam ia mengerjakan pe-er dan belajar.

5. ADA MASALAH DI RUMAH
Anak-anak selalu sensitif pada masalah-masalah yang terjadi di rumahnya.Jangan heran jika anak tiba-tiba berubah sikap setelah melihat orang tuanya bertengkar. Jadi, jika Anda dan suami sering bertengkar atau jika salah satu dari Anda baru kehilangan pekerjaan, sebaiknya bicarakan dengan anak apa yang sebetulnya terjadi. Terangkan bahwa perubahan yang terjadi pasti akan berakibat padanya secara langsung. Tapi jangan lupa untuk meyakinkan dirinya bahwa Anda akan selalu ada untuk menjaganya.

6. TEKANAN TEMAN MAIN

Anak yang sedang beranjak besar selalu takut bila dirinya tidak disukai dan dijauhi teman-temannya. Ketakutan dibenci teman-temannya jika ia menjadi nomor satu atau lain dari teman-temannya dapat terjadi di mana pun pada anak yang beranjak besar. Akibatnya, anak akan menghentikan usahanya untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya.

Ini memang bukan soal mudah bagi orang tua. Anda tentu tak bisa mendesak anak untuk mengubah perilaku atau temannya. Daripada mencoba-coba, lebih baik arahkan anak untuk melakukan aktivitas yang memberinya kesempatan untuk berkembang.

Beri anak kesempatan untuk merasakan menjadi pribadi yang unggul. Caranya, beri pujian tatkala ia berhasil melakukan sesuatu lebih dari yang lain. Para ahli juga merekomendasikan orang tua agar mendorong anak untuk bergabung dalam aktivitas ekstrakurikuler yang diikuti oleh murid-murid terbaik. Seringkali, lingkungan mendorong anak untuk jadi lebih baik karena ia seringkali ingin membuat lingkungannya terkesan pada dirinya.

7. PUNYA MASALAH BELAJAR
Jika anak menunjukkan keinginan untuk mengerjakan sesuatu atau mengerjakan pe-er dengan baik, namun tiba-tiba Anda menemukan anak menjadi sangat frustasi kala ia tak dapat melakukannya sesuai yang ia inginkan, pertimbangkan dengan serius untuk memberikan tes tentang kesulitan belajar. Bisa jadi, ia punya kesulitan untuk belajar. Dan jika ini yang terjadi, tak ada salahnya menghubungi seorang psikolog atau ahli.

8. TEKANAN ORANG TUA
Orang tua, tanpa disadari, seringkali menuntut terlalu banyak dari anak. Tentu saja, tak salah melibatkan diri dalam urusan pendidikan anak. Namun, para ahli berpendapat, keterlibatan orang tua yang terlalu jauh hanya akan menciptakan masalah. Tekanan dan tuntutan orang tua yang seringkali terlalu besar bisa-bisa menjadi "bom waktu" yang tak diinginkan. Bahkan, bisa jadi, tuntutan ini akan "membelokkan" prestasi anak menjadi di bawah nilai rata-rata. Untuk mencegah hal ini, pastikan bahwa anak mempunyai jadwal yang seimbang untuk semua kegiatannya, dari mulai sekolah, membuat pe-er, mengerjakan tugas, dan juga waktu untuk bermain dan hanya untuk bersenang-senang. (t.nova)

Comments are closed.