“Duh, Si Kecil Tak Bisa Disiplin…”


Disiplin? Tentu, perlu. Tapi, tak semua orang tua tahu cara mengajarkan disiplin pada anak. Ah, sebelum terlambat, kinilah saatnya Anda mengajarkan kepada buah hati Anda.

Disiplin adalah bagian dari perilaku popsitif yang idealnya dimiliki setiap orang. Kapan mengajarkan disiplin? Sejak dini, sejak anak masih kecil. Orang tualah yang bertanggung jawab untuk mengenalkan dan membentuk disiplin pada anak-anak mereka. Caranya ada banyak. Bisa dimulai dari mengajar anak untuk berdisiplin terhadap diri dan kegiatannya. Misalnya, mengatur waktu kapan belajar, kapan menonton teve, dan sebagainya. Pendekatan yang baik dan tepat akan membuat anak memahami, apa yang hendak diberikan orang tua. Bagaimana mendisiplinkan anak sesuai usianya?

Usia 0-2 tahun
Anak seusia ini selalu memiliki rasa ingin tahu yang alami. Cara terbaik untuk mengajarkan disiplin adalah dengan menghilangkan godaan-godaan di sekeliling mereka. Jagalah lingkungan sekitar anak, misalnya menyingkirkan perangkat video, stereo, juga bahan-bahan pembersih yang mengandung zat kimia serta obat-obatan. Jika anak mendekati tempat yang tak dapat ia capai atau tempat berbahaya, katakan "jangan" dengan lembut, dan pindahkan dia dari tempat itu. Lalu, alihkan perhatiannya dengan aktivitas yang menarik.

Menasihati anak usia ini bisa menjadi cara mendisiplinkan yang pas jika usaha menarik perhatian Anda tidak berhasil. Anak yang sering memukul, menggigit, dan melemparkan makanan misalnya, harus diberitahu kenapa perilaku tersebut tidak benar. Sebaiknya, jauhkan ia dari kebiasaannya itu dan tenangkan di tempat yang nyaman.

Photo84  Jangan pernah memukul atau menampar anak di usia ini. Bayi dan anak kecil sering tidak dapat mengerti apa hubungan perilaku mereka dengan hukuman. Jika Anda memukulnya, ia hanya akan merasakan sakit. Jangan lupa, anak akan belajar dari melihat perilaku Anda. Pastikan perilaku Anda menjadi contoh yang baik.

Usia 3-5 tahun
Ketika anak mulai tumbuh dan memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi, pastikan Anda mulai menciptakan aturan-aturan yang berlaku di rumah. Jelaskan pula, apa yang Anda harapkan dari mereka sebelum Anda menghukum mereka untuk perilaku tertentu.

Contohnya, ketika anak mencoretkan crayon di dinding ruang tamu, Anda harus mendiskusikan, kenapa hal itu tak boleh ia lakukan, dan jelaskan apa yang akan terjadi jika ia melakukannya lagi. Jelaskan pada mereka bahwa mereka harus membantu membersihkan dinding dan tak boleh menggunakan crayon-nya lagi. Jika ia melakukannya lagi dengan crayon tersebut di dinding, ingatkan bahwa crayon digunakan untuk menggambar di kertas dan tekankan konsekuensinya jika ia melakukannya di dinding lagi.

Lebih dini orang tua mendisiplinkan tindakan dan konsekuensi ini, hasilnya akan lebih baik. Meski ada kalanya orang tua lebih mudah tidak memedulikan perilaku buruk anak, atau memberikan hukuman, yang malah akan menciptakan kebiasaan buruk. Konsisten adalah kunci efektif dalam hal menerapkan disiplin. Orang tua harus membuat peraturan dan konsisten terhadapnya.

Bersamaan dengan menentukan perilaku bagaimana yang harus dihukum, jangan lupa beri penghargaan pada perilaku positif. Disiplin bukan sekadar hukuman. Orang tua perlu mengenali perilaku yang baik. Contohnya, Anda dapat mengatakan, "Ibu bangga padamu yang mau meminjamkan mainan pada teman-teman." Pujilah secara spesifik perilaku anak Anda. Jangan sekadar mengucapkan kata "bagus."

Usia 6-8 tahun
Waktu istirahat dan konsekuensi merupakan dua hal efektif dalam mendisiplinkan anak usia ini. Sekali lagi, konsekuensi adalah hal yang penting. Peganglah janji. Anak harus percaya bahwa yang Anda katakan adalah yang Anda maksudkan, tanpa ada kebohongan. Anda harus konsisten dengan apa yang Anda katakan.

Hati-hati, jangan membuat hukuman yang mengada-ada, misalnya, "Kalau kamu menutup pintu keras-keras, kamu tak boleh menonton teve selamanya!" Contoh lain, jika tiba-tiba anak menangis atau marah-marah di mobil dalam perjalanan berlibur, lalu Anda mengancam akan berputar kembali ke rumah jika ia terus menangis, pastikan Anda benar-benar melakukannya. Kehilangan kesempatan pergi ke suatu tempat tidak ada artinya dibandingkan menunjukkan kredibilitas Anda di depan anak.

Hukuman yang besar akan menghilangkan kekuatan Anda sebagai orang tua. Jika Anda menghukum anak Anda sebulan penuh, ia tidak akan termotivasi untuk mengubah perilakunya karena ia merasa semua haknya telah hilang.

Usia 9-12 tahun
Anak di usia ini, sama seperti lainnya, dapat diajarkan disiplin dengan konsekuensi yang alamiah. Sejalan dengan kedewasaan serta tuntutan kemandirian dan tanggung jawabnya, mengajari mereka menghadapi konsekuensi atas perilakunya adalah metode disiplin yang efektif. Contohnya, ketika anak yang duduk di kelas 5 SD tidak mengerjakan pekerjaan rumahya sebelum tidur, haruskah Anda menyuruhnya tetap bangun atau menolongnya menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut?

Sebaiknya Anda tidak menolongnya. Karena jika Anda membantunya mengerjakan pe-er, maka Anda tidak akan memberi kesempatan belajar dalam hidupnya. Jika ia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya lebih awal, ia akan pergi ke sekolah keesokan harinya dengan mendapatkan nilai yang jelek. Ini akan menyelamatkan anak Anda dari kesalahan selanjutnya. Dan paa akhirnya, ia akan mengetahui perilaku yang baik itu seperti apa, dan tidak akan melakukan kesalahan lagi. Namun, jika anak terlihat tidak mempelajari konsekuensinya, Anda harus membuat konsekuensi yang Anda buat sendiri untuk menolong mereka mengatur perilakunya dengan efektif.

Usia 13 tahun ke atas
Anak pada usia ini telah mengetahui apa yang ia inginkan dan tahu apa maksud perkataan Anda tentang konsekuensi. Namun, jangan memperlemah penjagaan. Disiplin tetap penting, apalagi bagi anak yang menginjak usia remaja. Seperti anak usia 4 tahun yang membutuhkan waktu tidur yang tepat, anak remaja pun harus mengetahui batas-batas. Pastikan Anda membuat peraturan yang menyangkut waktu mengerjakan pekerjaan rumah, waktu kunjungan teman, jam malam, serta diskusikan apa yang terbaik baginya sebelum terjadi kesalahpahaman. Anak, meskipun sering memprotes sesuatu, akan menyadari bahwa ia berada dalam pengawasan.

Percaya atau tidak, remaja masih menginginkan dan membutuhkan Anda untuk menentukan batas-batas dan menetapkan perintah dalam hidupnya, meskipun Anda mengizinkan mereka memiliki kebebasan dan tanggung jawab.

Ketika anak keluar dari peraturan, menghilangkan hak istimewa mereka dapat menjadi jalan yang baik. Ketika Anda mengizinkan anak boleh belajar ke rumah teman selama seminggu terus-terusan misalnya, pastikan Anda mendiskusikan dengan mereka kenapa pulang lewat jam malam tidak dapat diterima dan dapat membuat khawatir.

Penting juga untuk memberi kontrol pada kehidupan remaja. Hal ini seringkali memang menimbulkan perlawanan, tapi ini akan menolong mereka menghargai keputusan yang harus Anda buat untuk mereka. Anda dapat mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri yang berkaitan dengan pakaian, model rambut, atau kondisi kamar. Ketika ia beranjak makin dewasa, ia akan mampu mengontrol dirinya atas kegiatannya sendiri.

NONTON TEVE? BOLEH, KOK
Saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton televisi dibandingkan kegiatan lain selain tidur. Berbagai tayangan televisi lebih menarik perhatian mereka daripada membaca buku atau melakukan aktivitas lainnya untuk mengisi waktu luang mereka. Kebiasaan menonton televisi daam waktu lama akan menciptakan pola hidup tidak sehat. Kebiasaan makan sambil menonton televisi, misalnya, bisa menciptakan obesitas pada anak.

Untuk membantu orang tua mengajari anak menonton televisi secara benar, tips berikut bisa dicoba:

1. Beri batasan.
Ketahuilah, berapa banyak acara teve yang dilahap anak, dan jangan ragu untuk mengurangi waktunya. Banyak anak yang tidak mau begitu saja meninggalkan televisi. Orang tua lebih baik membatasi lamanya anak menonton televisi 1-2 jam per hari.

2. Minimalkan pengaruh televisi di rumah.
Selalu matikan televisi saat acara makan bersama keluarga. Jadikan komunikasi atau obrolan menjadi prioritas di rumah. Jangan menempatkan ruang berkumpul keluarga menjadi ruang menonton televisi. Hindari kondisi dimana anak-anak memiliki televisi masing-masing di kamarnya, karena hal ini akan meminimalkan interaksi dalam keluarga.

Photo189  3. Gantilah televisi dengan perangkat teknologi lain.
Gunakan perangkat video player atau CD player untuk menonton film. Sewalah film anak atau film keluarga, yang bermuatan pendidikan, lalu tontonlah bersama-sama.

4. Rencanakan atau pilih acara televisi yang baik untuk ditonton.
Pilihlah film atau acara teve yang Anda pikir baik untuk ditonton seluruh anggota keluarga. Anda dapat memilihnya melalui jadwal acara televisi di surat kabar. Anda juga bisa melihat program acara apa yang ratingnya baik dan mendidik untuk ditonton keluarga.

5. Jangan menggunakan televisi sebagai bagian dari hukuman atau penghargaan bagi anak.
Ini akan membuat televisi menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan anak.

6. Menontonlah bersama anak.
Bantulah anak untuk menginterpretasikan acara apa yang ia tonton bersama Anda. Gunakan televisi sebagai bahan diskusi mengenai banyak hal, seperti perilaku, pekerjaan, juga masalah-masalah yang membingungkan. Ajari anak untuk selalu bertanya dan belajar
tentang apa yang ia saksikan.

7. Beri alternatif.
Orang tua bertanggung jawab pada apa yang anak saksikan melalui televisi. Berikan kegiatan pilihan lain seperti kegiatan dalam rumah dan luar rumah, misalnya jalan-jalan, permainan, olahraga, hobi, juga membaca. Bisa juga membuat jadwal khusus untuk berolah raga bersama.

8. Manfaatkan terpaan tayang iklan televisi.
Jangan menghindari iklan-iklan di televisi mengenai mainan, makanan dan minuman ringan. Sebaliknya, manfaatkan iklan untuk membantu anak membangun kebiasaan makan yang sehat, misalnya, atau menjadi konsumen yang pintar dengan memilih makanan yang tepat.
Jika tips-tips dilakukan, orang tua dapat mengajarkan anak untuk melihat sisi positif televisi dan menghindari potensi negatifnya. Anak akan mendapat manfaat besar dari televisi.

JANGAN MENAMPAR!
Menampar atau memukul adalah cara mendisiplinkan yang kontroversial. American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menyetujui cara kekerasan seperti menampar, dalam kondisi apa pun. Kenapa?

1. Menampar akan mengajarkan anak bahwa ia boleh memukul ketika marah.

2. Tamparan akan menyakiti anak secara fisik.

3. Menampar tidak mengajarkan anak untuk mengubah perilaku salah mereka, melainkan akan membuat mereka takut pada orang tuanya, sehingga mereka selalu menghindar takut tertangkap basah.

4. Pada kasus anak yang suka mencari perhatian dengan berperilaku berlebihan, menampar secara tidak disengaja akan membuat mereka merasa mendapat perhatian. Mereka merasa, perhatian negatif lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali.(t.nova)

Comments are closed.