Archive for April, 2005

Tiramisu

Monday, April 25th, 2005


KLIK - DetailBahan:
1 sponge cake siap pakai ukuran 25x 25 cm

Sirop Kopi:
3 sdt kopi instan
150 ml air panas
3 sdt gula pasir
50 ml rhum

Cream:
250 gr mascarpone cheese
4 kuning telur
100 gr gula pasir
4 sdm air
1 lbr gelatin
50 ml air panas
500 ml whip cream dingin, kocok hingga kental

HIASAN:
Cooking cokelat

CARA MEMBUAT:

KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail
1. Potong sponge cake dengan cooking cutter garis tengah 8 cm, sehingga mendapatkan 12 potongan. Lalu pasang plastik mika kue di sekelilingnya pada 6 buah potongan kue, sisihkan. 2. Campur semua larutan kopi, percikan larutan kopi di atas sponge cake.
KLIK - Detail KLIK - Detail
3. Cream: Jerangkan di atas api kecil, gula dan air tanpa di aduk hingga mendidih dan gula larut, biarkan mendidih dan kental.

Kocok kuning telur, sambil di tim hingga kental, masukkan larutan gula panas, kocok terus hingga kental dan agak dingin, sisihkan. Campur gelatin dengan air panas, lalu tim hingga bening.

4. Kocok mascarpone cheese hingga lembut, campur dengan whip cream kental, aduk rata. Lalu masukkan adonan kuning telur dan gelatin, aduk rata.
KLIK - Detail
5. Tuang adonan cream di atas sponge cake, ratakan, lalu tumpuk dengan potongan sponge cake, perciki air kopi, tuang cream lagi di atasnya, lalu simpan dalam freezer. Setelah dingin hias atasnya dengan cokelat.

Untuk 6 buah

Keju Mascarpone:
Keju Italia berwarna putih ke kuningan dan bertekstur lembut. Dijual dalam kemasaan mangkuk plastik.

BISUL : Penghubung Antara Engkau Dan Aku

Friday, April 22nd, 2005

Tiga hari ini langkahku agak tertatih-tatih. Tanpa diduga pantatku nongol sebuah bisul.

Nyeriiiii sekali. Sampai-sampai tubuhku menjadi meriang panas-dingin. Ba-yangkan! la muncul di pantatku yang tak berdaging, alias tepos. Bisul itu membuatku susah duduk dan tidur. Bi-ngung bagaimana harus menyikapi bisul ini?

Tiga hari saya kerjanya hanya marah-marah sambil memaki tuh bisul, "Ke-napa sih bisul ini tidak memilih tempat yang lain? Kenapa harus di pantat? Kan, mengganggu saya bekerja." Tapi, marah-marah juga nggak ada untung-nya. Tidak menghilangkan rasa sakit.

Tiba-tiba, aku teringat oleh sebuah sms yang dikirim temanku, "Cintailah sakitmu, sayang! Dengan mencintai sakit-mu, kau akan menemukan Tuhan." Gimana caranya mencintai penyakit? Lha wong bisul ini bikin aku sakit kok dicintai? Ach, ada-ada aja tuh! Coba kalau dia yang bisulan, pasti juga kesakitan. Sambil menahan nyeri, aku iseng-iseng mengambil buku yang terserak di meja belajarku. Saat kubuka, mataku langsung menangkap sebuah hadis Qudsi, firman Tuhan yang berbicara lewat Nabi, yang mengatakan, "Wahai orang beriman! Kesehatan yang baik merupakan penghubung antar-engkau dan dirimu sendiri. Tetapi, penyakit membuat penghubung, antara Engkau dan aku. "

Ups!! Apa maksudnya hadis itu? Aku cermati buku itu dengan seksama, baris demi baris. Kutemukan sebuah kalimat, "Sakit dan sehatnya tubuh merupakan karunia Tuhan. Bagi orang beriman, ia akan memetik hikmahnya dari keduanya. Jika sakit, ia memandangnya dengan bersabar, bertawakal, dan bersyukur. Dan jika kita mampu menyikapi penyakit dengan sabar, sebenarnya kita akan mampu mengambil kebaikan dari penderitaan fisik tersebut."

AI-Suyuthy, seorang sarjana Mesir, juga menyibak nilai positif dari sebuah penyakit dalam bukunya, Kedokteran Nabi. la berujar, pertama, seorang yang beriman haruslah tidak takut akan penyakit. Karena jika ia tahu apa yang diperolehnya dari penyakit, maka dia akan ingin sakit bahkan hingga mati. Kedua, Jika Tuhan mencintai seseorang, dia akan menimpakan penderitaan pada mereka. Ketiga, tidak ada penya­kit yang diderita seorang yang beriman kecuali merupakan balasan atas dosanya-dosanya, baik itu adalah sebuah duri yang menusuknya atau sebuah bencana besar yang melemahkannya. Dan, keempat, tidak ada seorang muslim yang mendapat kecelakaan tanpa Tuhan melepaskannya dari dosa-dosanya, seperti pepohonan menggugurkan daunnya.

Setelah membaca buku itu, saya juga teringat dengan perkataan guruku di suatu pekan. Katanya, dalam kehidupan ini ada dua hukum yang berlaku. Pertama, hukum spiritual, dan kedua, hukum fisik. Cara kerja kedua hukum ini berbalikan. Dalam hukum spiritual berlaku kehidupan waktu sementara dalam hukum fisik berlaku pada kehidupan ruang. Ach, jadi bingung?

Begini nih katanya! Kalau orang berpandangan spiritual itu tertimpa sebuah musibah atau penyakit, maka mereka tidak akan mengerutu atau meratapi, malah mereka akan berkata, "Alhamdulillah." Lho, kok, bisa? Bisa saja, katanya. Karena mereka selalu berpikir "apa akibatnya nanti", dus, mengambil sebuah hikmah dari mu­sibah atau penderitaan itu. Sementara orang yang berpandangan hukum fisik jika tertimpa musibah atau penyakit biasa akan meratap, karena dalam pandangan mereka masih melihat, "apa yang terjadi sekarang."

Saya jadi tertegun sambil senyum-senyum sendiri. Ternyata, saya tergolong orang yang berpandangan hukum fisik. Karena, baru diberi cobaan pe­nyakit bisul saja saya sudah marah-marah melulu. Tapi, ngomong atau berteori sih memang gampang! Yang penting, bagaimana caranya saya bisa mengambil keuntungan dari sakit bisulku ini? Lama saya terdiam. Saya mencoba memungut hikmah di balik nongolnya bisul di pantatku ini. Saya mulai bertanya dalam diriku, "Bisul itu timbul karena apa, ya?" Jawaban secara medis memang diperlukan. Tapi yangm jelas ada kesalahan dalam tubuh­ku. Yaitu, tertutupnya set kulit atau darah kotor akibat kurangnya perawatan tubuh.

Kemudian, saya baru sadar bahwa selama ini saya kurang memperhatikan kondisi tubuhku sendiri. Saya sibuk de­ngan segala rutinitas di luar diriku. Padahal, tubuh kan juga membutuhkan istirahat. Barangkali, bisul yang nongol di pantatku ini sebagai bentuk protes padaku. la ingin istirahat karena capek. Jadi, dengan munculnya bisul itu mengingatkanku akan pentingnya kesehatan. Bayangkan! Gara-gara bisul yang tak sebesar onde-onde itu saja, saya sudah panah-dingin. Semua tugasku jadi berantakan. Jadi, bisul mengundangku untuk bersyukur akan nikmatnya kesehatan. Sehat itu penting. Tapi, sayang ia seringkali kali diabaikan. Orang akan baru ingat penting­nya arti sehat kala tertimpa sebuah penyakit. Bisul ternyata meningkatkan evolusi kesadaranku untuk selalu bertasyakur pada-Nya.


Rautan Kayu

Friday, April 22nd, 2005

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentuh. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segala-nya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpot-kan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semua-nya untuk Pak Tua ini."

Lalu, suami-istri ini pun membuat-kan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Kare-na sering memecahkan piring, kedua-nya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, ter-dengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun . memandangi semua dalam diarri. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan t ditanyalah anak itu. "Kamu se­dang membuat apa?" Anaknya men-jawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletak-kan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang terno-da. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah per-sepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunanjiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semua­nya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kecaman, la belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, la belajar berkelahi.

Jjka anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi rendah diri.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menghormati.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika. anak hidup dalam rasa adil, la belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Kahlil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita.

Karena Kita Manusia…

Wednesday, April 20th, 2005

Bagus juga nih lirik lagunya Seurieus Band yang judulnya “Rocker Juga Manusia”. Di antara kamu banyak yang apal kan lirik lagunya? Ini nih lirik-nya: “Mungkin orang menyangka. Ku tak pernah terluka. Tegar bagaikan batu karang. Tabu cucurkan air mata. Kadang kumerasa lelah. Harus tampil sempurna. Ingin kuteriakkan. Andai mereka tahu. Perasaan dalam hatiku. Lembut bagaikan salju.

Deuuuu sampe segitunya. Tapi bener juga kok tembang yang dinyanyikan band asal Bandung ini. Namanya juga manusia, pasti nggak lepas dari masalah. Bahkan masalah ini selalu menyertai selama kita masih hidup. Jadi, hidup itu memang penuh masalah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada yang stres, nggak sedikit juga yang menikmatinya. Semoga kita cukup berani untuk menjalani kehidupan ini. Cuma orang yang ciut nyalinya aja yang nggak berani menghadapi tantangan hidup.

Benar juga pesan yang didendangkan Seurieus, meski fokusnya ke profesinya sebagai rocker, tapi bisa juga bermakna umum lho. Ya, apa pun profesinya, dari kalangan mana pun, manusia tetaplah manusia. Yang punya hati punya jiwa. Punya pikiran, punya perasaan. Entah mereka rocker, ustadz, da’i, seleb, pelajar, pedagang, pegawai, sopir, mahasiswa, ibu rumah tangga, polisi, preman, maling, perampok, koruptor, orang kaya, orang miskin, tentara, menteri, dan presiden sekali pun tetaplah manusia.

Mereka bisa salah dan bisa benar. Selalu merasakan sedih sekaligus bisa merasakan bahagia. Terbiasa menderita dan nggak jarang hidup senang. Manusia juga ingin dicintai dan mencintai. Bahkan nyaris selalu bisa memaafkan tapi sekaligus pula senantiasa memendam dendam. Bisa berbusa-busa cerita apa saja, tapi tak sedikit yang hidup menyendiri dan menikmati kesendiriannya tanpa perlu diobral ke yang lain. Ada hitam dan ada putih dalam sisi hidup manusia. Ya, karena kita memang manusia.

Mengenal diri kita

Sobat muda muslim, manusia memang makhluk Allah SWT. Potensi makhluk tentunya sudah ‘diset’ oleh Allah Ta’ala , yang memang paling tahu karater berbagai makhlukNya (termasuk manusia). Hal ini sekaligus memberi pesan yang jelas bahwa manusia tetaplah manusia, punya kelemahan di balik kelebihannya. Nggak ada manusia yang sempurna dalam pengertian sangat ideal dalam hidupnya.

Misalnya aja, kalo ngikutin ukuran logika kita bahwa orang yang sempurna itu adalah mereka yang secara fisik menarik, dan juga punya inner beauty. Kalo anak laki biasanya kita menilai oke kalo punya wajah ganteng, body atletis, tajir, pinter, keluarganya baik-baik, pemahaman agamanya bagus, dakwahnya pun kenceng. Begitu pula dengan yang cewek; cantik, langsing, kulitnya putih bersih, anak orang kaya, pinter, pendidikannya tinggi, punya bisnis yang maju, akhlaknya mulia, pemahaman agamanya nomor wahid, dan dakwahnya agresif. Wah, pokoknya jika ada yang model gini nih, pasti disebut sempurna dan ideal banget.

Tapi, ternyata dalam faktanya, kita selalu tidak pernah bisa menemukan yang lengkap seperti itu. Pasti ada aja kelemahan di balik kelebihannya yang lain. Saya pikir itu wajar kok. Jika sekarang ada orang yang cantik, tajir, anak orang kaya, pinter, tapi ternyata pemahaman agamanya kurang bagus, dan malah jadi penghalang dakwah. Sebaliknya, ada yang pemahaman agamanya bagus dan dakwahnya kenceng, tapi doi berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan penampilannya kurang fotogenik menurut ukuran kita. Ya, itu semua karena kita memang manusia.

Sobat muda, dengan kondisi kita yang seperti ini seharusnya membuat kita berpikir lebih keras dan semakin sadar dengan diri kita sendiri. Itu sebabnya, rada-rada aneh gitu, kalo ada manusia yang masih nggak ngeh dengan dirinya sendiri. Nggak kenal siapa dirinya.

Padahal, coba deh tengok diri kita. Secara fisik Allah SWT sudah memberikan kita mata. Fungsinya sudah jelas, yakni untuk melihat. Tapi seringkali kita lupa dan nggak bersyukur. Bukannya mata diberdayakan untuk hal-hal yang positif, ternyata kita malah bangga dengan ‘memaksa’ mata untuk melakukan kegiatan yang nggak bermanfaat bahkan melanggar aturan agama. Misal, untuk ngintip yang bukan haknya, untuk menatap tajam dengan marah yang tak jelas dasarnya, bahkan selalu memasang pandangan curiga kepada setiap orang.

Belum lagi kalo harus berpikir dan menimang rasa, bahwa kita diberikan kedua bola mata yang sempurna. Harusnya bersyukur, karena kalo kita mau melihat ke sekitarnya masih banyak ditemukan saudara kita yang matanya cacat bahkan sampai buta. Di sinilah kadang kita nggak sadar bahwa kita adalah manusia, yang diciptakan oleh Allah lengkap dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Kalo kita mengenal siapa diri kita, maka yakin kita akan mengenal dengan mudah siapa yang menciptakan kita.

Contoh tadi baru sekadar mata lho, yang ada dalam diri kita. Dari satu organ tubuh itu kita bisa bercerita banyak sebenarnya dan diharapkan bisa memberikan keyakinan kepada kita untuk mengenal siapa kita dan pencipta kita. Kalo belum puas, coba deh sekarang direnungkan, Allah membuat hidung kita dengan amat bagus bentuknya dan betul-betul didesain dengan model yang sangat aman. Salah satunya lubang hidungnya menghadap ke bawah. Bayangkan kalo lubang hidungnya menghadap ke atas, bagaimana repotnya kita jika turun hujan sementara kita nggak bawa payung atau nggak ada tempat untuk berteduh. Pernahkah kita berpikir sampai ke sana? Semoga saja sering ya.

Itu baru hidung dan mata, ada yang mungkin sering kita lupakan, yakni jantung. Sekadar tahu saja, jantung setiap harinya dengan tak pernah bosan harus berdetak 101.000 kali. Selama kita hidup (misalnya rata-rata 63 tahun), jantung berdetak lebih dari dua miliar kali dan memompa kurang lebih 400 juta liter darah. Bekerja dengan tak perlu meminta ijin kita terlebih dulu. Jantung dengan cueknya (dan mungkin tanpa pamrih) terus melakukan tugasnya untuk kita. Kita mungkin berpikir, siapa sih diri kita, siapa sih yang memberikan segalanya yang ada dalam diri kita.

Nah, pertanyaan seperti ini bisa kamu dapatkan jawabannya dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Qs. al-Hajj [22]: 5).

Sobat muda muslim, inilah kita saat ini. Meski kita sekarang tampak kuat, bisa berpikir dengan cepat, melahirkan berbagai karya adiluhung, semuanya itu tetap tak lepas dari peran Allah SWT. Jadi, kayaknya kita perlu nyadar deh bahwa kalo aja Allah mematikan kita, nggak ada seorang pun bisa mencegahnya. Teknologi paling canggih yang telah berhasil diciptakan oleh manusia, ternyata belum tercipta teknologi untuk memperlambat datangnya ajal. Betul ndak? Inilah, karena memang kita adalah manusia. Bahkan Radja dengan manisnya berdendang, “Aku hanyalah manusia biasa, yang tak pernah lepas dari khilaf.

Memanfaatkan potensi diri

Kalo kita mau berpikir lebih dalem lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Kalo ingin membayangkan gimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu aja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh.

Tapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampe sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Contoh kecil aja, apa pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry kali ye?), kemudian ada kucing yang sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya, bahkan mendengarnya kecuali kalo kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Iya kan? Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah SWT yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal, sobat.

Allah SWT menjelaskan dalam al-Qur’an:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 70).

Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita kudu pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah SWT. Aneh bin ajaib kalo masih ada manusia yang nggak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah dong ya?

Sobat muda muslim, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun kudu benar sesuai tuntunan Allah SWT. Nggak bisa asal njeplak berdasarkan hawa nafsu kita. Nggak bebas en liar gitu tentunya.

Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan nggak bakalan lepas dari pengamatan Allah SWT. Kalo di sekolah kita bisa ngibulin teman atau guru dengan berbohong, maka Allah nggak bakalan bisa dibohongi. Kalo di dunia ini para pembunuh bisa nyantai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti nggak bakalan lolos dari hukuman yang diberikan Allah SWT. Bahkan Allah SWT tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Nggak bakalan ketuker masukin data. Allah SWT pasti jeli, amalan kita yang baik akan ditaro di “folder” amalan baik. Begitu pun amalan buruk kita. Terus, terminal akhir di akhirat pun sudah jelas buat tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga buat yang amal baiknya banyak, sementara neraka khusus untuk yang berbuat maksiat waktu di dunia.

Watau, ini kok ngomongnya pahala-dosa dan surga-neraka aja sih? Ya, biar kita takut. Biar kita benar-benar taat kepada Allah SWT. Karena sejatinya yang menciptakan surga dan neraka juga Allah SWT. Tempat itu pun sudah disiapkan oleh Allah untuk kita sesuai amalan kita. Semoga surga yang kita dapatkan.

Hmm…jadi inget lagunya Chrisye, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?

Sayangnya, meski surga dan neraka sudah jelas diterangkan keberadaannya di al-Qur’an oleh Allah SWT banyak manusia yang tetap berbuat maksiat. Nggak ngikutin perintah Allah dan bahkan ogah menyembahnya. Aneh banget kan? Apalagi kalo surga dan neraka nggak ada?

Sebaiknya, memang kita sadar diri. Yuk, kita mengkaji al-Qur’an, mengkaji Islam lebih dalam. Memahami siapa diri kita, siapa pencipta kita. Karena apa? Karena kita manusia, yang memang banyak kekurangannya dibanding kelebihannya. Sebagai wujud rasa syukur kita, pantes banget deh kalo kita beribadah hanya Allah SWT. Bukan kepada yang lain. Wallahu’alam

Kesombongan Menghancurkan Diri

Wednesday, April 20th, 2005

Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia dan bisa terjadi pada siapa saja, kesombongan merupakan tabi’at syaithan yang diawali saat mereka menolak sujud kepada Adam as ketika diperintah Allah swt. Seorang suami melakukannya dengan marah, memaki atau memukul anak dan istrinya karena merasa dia yang memberikan makan mereka. Seorang atasan melakukannya dengan mengancam bawahannya bahwa karirnya tergantung padanya. Seorang pejabat melakukannya dengan mengancam para pengkritik kebijakannya. Seorang haji melakukannya dengan menyatakan bahwa keislamannya telah sempurna dengan berhaji, padahal Islam tidak hanya sekedar rukun Islam.

Seorang Ustadz juga bisa melakukannya dengan mengatakan: “Itu orang kalau bukan karena saya nggak bakalan tobat!” Bahkan seorang pengemis-pun dapat melakukannya dengan membuang recehan yang kita berikan.

Puncak kesombongan adalah Raja Mesir Fir’aun, dimana dia mengaku sebagai Tuhan yang layak disembah, dapat menghidup dan mematikan makhluk. Saat Fir’aun berdebat dengan Nabi Musa as bahwa ia mampu menghidupkan dan mematikan manusia, ia panggil dua orang rakyatnya kemudian yang satu dibunuhnya dan satunya lagi dibiarkan hidup. Dengan sombong dia katakan: “Bukankah aku seperti Tuhanmu, bisa menghidupkan dan mematikan manusia”. Tetapi, apakah Fir’aun mampu menghidupkan kembali orang yang telah dibunuhnya itu?.

Kalau kita telaah diri kita sendiri, maka tidak ada yang patut disombongkan. Kita diciptakan dengan setetes “Air yang hina”, kita sendiri mungkin jijik memegang atau melihatnya, mungkin semut saja yang senang mengerubutinya.

(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani). (Qs. As-Sajdah [32]: 7).

Setelah kita utuh menjadi manusia, semua lubang pada diri kita merupakan tempat keluarnya kotoran; hidung, mata, telinga, mulut dan kedua lubang farji kita. Seolah-olah didalam tubuh kita dipenuhi oleh kotoran.

Begitu juga setelah kita mati, jika dibiarkan seminggu saja menimbulkan bau busuk menyengat dan semua orang akan menutup hidungnya. Setelah dikuburkan akan dinikmati oleh cacing tanah dan belatung, bahkan sebagian orang takut melewati kuburan kita.

Tidak ada yang patut disombongkan didunia ini, harta, tahta (jabatan), wanita (keluarga), kecerdasan dan kecantikan merupakan kenikmatan sementara yang dipinjamkan Allah swt kepada kita dan dapat diambil sewaktu-waktu oleh Allah swt. Begitu banyak orang kaya dengan sekejap menjadi miskin karena tertimpa musibah banjir, kebakaran atau perampokan. Banyak pejabat penting dalam sekejap menjadi warga biasa dan dicerca karena dilengserkan atau aibnya terungkap. Banyak keluarga bahagia tiba-tiba menjadi sengsara karena keluarganya (anak, istri atau suami) meninggal atau bercerai. Berapa banyak orang yang cerdas tetapi umur 60 tahun sudah pikun. Sekian banyak artis cantik tetapi diusia senja wajahnya mulai keriput. Sangat mudah bagi Allah swt untuk memberi atau mencabut kenikmatan itu.

Salah satu ciri kesombongan adalah orang-orang yang tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah swt kepadanya. Kenikmatan tidak melulu kekayaan (rezeki) semata, tetapi kesehatan, waktu luang, rezeki yang halal, rumah dekat mesjid, lingkungan aman, tetangga/teman yang baik, keluarga yang harmonis, anak yang cerdas atau istri shalihah, semuanya kenikmatan yang sering terlupakan oleh kita.

Orang-orang yang sombong mereka tidak mau bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah swt, mereka merasa bahwa semua kesuksesan yang diperolehnya merupakan hasil jerih payahnya semata. Dia lupa bahwa semua yang dia peroleh merupakan pemberian Allah swt, sebagai wujud Allah swt yang Maha Rahman dan Rahim. Rasa syukur kepada Allah swt dilakukan dengan menjalankan kewajiban ibadah, meninggalkan larangan/kemaksiaatan dan mematuhi semua yang diperintahkan Allah swt.

Ciri kesombongan yang lain adalah menolak kebenaran yang disampaikan, dia masih berdalih dengan berbagai cara sebagai pembenaran atas tindakannya yang melanggar syari’at agama. Padahal ia harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya yang melanggar syari’at agama tersebut.

Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. [HR Muslim].

Allah swt mengecam orang-orang yang berjalan dengan sombong dimuka bumi, menolak kebenaran dan tidak mau bersyukur,

Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Qs. Luqman [31]: 18).

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertawakalah kepada Allah”. Bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Qs. Al-Baqarah [2]: 206).

Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya. (Qs. An-Naazi’aat [79]: 37-41).

Akhirul kalam, tidak ada yang patut disombongkan didunia ini karena semuanya titipan Allah swt yang dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik seluruh alam. Dengan kesombongan kita telah menghancurkan diri sendiri, kita dibenci oleh sesama manusia dan diakhirat menjadi orang yang merugi. Wallahua’lam,

Menjadikan Hidup Punya Makna

Wednesday, April 20th, 2005

Hidup dapat dirasakan tapi sulit didefinisikan. Dalam hidup ini, manusia dan hewan sama saja. Sama-sama makan, minum, bergerak, berkembang biak, menyayangi anak, dan berinteraksi satu sama lainnya. Bedanya, hewan melakukan semua itu dengan sekehendak hatinya, sedangkan manusia ada yang melakukan dengan sekehendaknya dan ada pula yang diatur dengan aturan Allah SWT Penciptanya. Bila manusia dalam menjalani hidupnya ini hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semata berarti tidak ada bedanya oran tersebut dengan hewan. Demikian pula bila seseorang menjalani hidup ini seenak perutnya, bebas tanpa aturan, memperturutkan logika dan hawa nafsunya, serta melupakan aturan Allah SWT, saat itu orang tadi tidak dapat dibedakan dengan hewan. Berkaitan dengan ini Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an Al-A’rof [7] ayat 179 yang artinya:

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qulub, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alllah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran dan kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu seperti binantang ternak, bahkan mereka libih sesat lagi. Mereka itu orang-orang yang lalai”

Dalam Hal ini Imam Ibnu Katsir, memaknai ayat ini tadi dengan menyatakan bahwa Allah SWT menyediakan jahanam bagi manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni jahanam. Mereka demikian dikarenakan alat indera yang sebenarnya telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai jalan datangnya hidayah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka. Sebab, mereka itu buta, tuli dan bisu dari mengikuti petunjuk dari Allah SWT. Mereka yang tidak mendengarkan kebenaran (Islam), tidak mengikuti kebenaran (Islam), dan tidak mengikuti petunjuk Allah SWT lakasana hewan berjalan yang alat-alat indranya tadi tidak bermanfaat sedikitpun kecuali untuk perkara-perkara yang diperlukannya secara lahiriyah di dunia. Mereka ketika diseru untuk beriman tidak mengindahkan. Persis seperti hewan bahkan mereka lebih sesat dari binatang. Binatang diciptakan oleh Allah SWT untuk dipergunakan manusia demi kepentingannya, dan hewan memenuhinya. Sedangkan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, namun mereka malah kufur kepadanya.

Selain pemaparan dari Imam Ibnu Katsir diatas, jelaslah ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak mempergunakan qulubnya (akal dan hatinya) untuk mengkaji, memikirkan, dan menghayati Islam yang terdapat dalam nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai teks kebenaran yang diwahyukan oleh Allah SWT niscaya dia akan seperti hewan. Demikian pula orang yang tidak mempergunakan telinga dan matanya untuk mendengar, melihat dan mencari kebenaran. Sungguh hal ini benar-benar merupakan ejekan yang luar biasa. Andai saja ada orang yang mengatakan kepada kita bahwa kita seperti babi atau sapi, apa perasaan kita? Pasti Marah! Sekarang, Allah menyatakan bahwa orang yang tidak memahami, tidak tunduk dan tidak patuh kepada wahyuNya disebut hewan bahkan lebih sesat dari hewan. Padahal sebinal-binalnya hewan tidak ada yang homo atau lesbian sesama hewan! Sejahat-jahatnya hewan tidak ada yang mencincang anaknya sendiri! Astagfirullahal ‘Azhim!

Bila demikian, sungguh adanya aqal, hati, penglihatan dan pendengaran pada orang seperti tadi sama dengan tidak adanya. Seperti dalam firman Allah:

“Dan kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah” (Qs. Al-Ahqaf [46]: 26).

Untuk itu tidak ada jalan lain selain mengguankan aqal dan hati untuk memahami kebenaran, mata untuk mencari dan melihat kebenaran, dan telinga senantiasa mendengar kebenaran.

Dan kebenaran itu adalah apa-apa yang datang dari Allah dan itu ada dalam Islam, seperti dalam firmannya:

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Qs. Al-Baqarah [2]: 147).

“Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dien (agama, sistem hidup), niscaya ditolaknya apapun darinya dan ia di akhirat termasuk orang yang rugi” (Qs. Ali-Imron [3]: 85).

Dengan kata lain, segenap potensi yang dimilikinya itu digunakan untuk memahami dan menghayati Islam untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah SWT menyatakan dalam firmannya:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaku” (Qs. Adz Dzariat [5]: 56).

Jelas sekali, Allah SWT sebagai pencipta menusia menetapkan bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepadaNya. Padahal ibadah itu maknanya taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepadaNya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkanNya. Jadi manusia ini hidup (ada didunia ini) semata-mata tunduk dan patuh kepada aturan dan hukum-hukum Allah SWT dalam semua perkara: aqidah, ibadah mahdhah, sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya.

Melalui ibadah seperti inilah manusia akan berbeda dengan hewan bahkan melambung jauh lebih tinggi daripada derajat hewan. Hewan makan, manusia juga makan. Tetapi manusia tidak sembarangan makan. Ia makan hanya makanan yang halal dan baik, memperolehnya dengan cara yang dibolehkan Allah SWT, cara makannnya pun tidak sembarangan. Hewan melampiaskan birahi, demikian pula manusia. Namun manusia hanya melampiaskan birahi hanya kepada perempuan (apabila dia laki-laki), itupun sudah dinikahi terlebih dahulu sesuai dengan hukum Islam. Setelah pernikahanpun diurusnya istrinya tersebut, dididiknya, tujuannyapun bukan bersifat seksual melainkan untuk mendapatkan keturunan yang shalih. Hewan hidup bersama dengan sesamanya. Demikian pula hanya manusia. Bedanya, dalam kehidupannya hewan tidak diatur secara formal, yang kuat itulah yang menang dan berkuasa. Sebaliknya, manusia diatur oleh aturan-aturan Allah SWT. Kedaulatan ada ditangan syara’, sehingga yang menentukan halal haram, baik buruk, terpuji tercela, serta mana yang boleh ada ditengah masyarakat dan mana yang tidak boleh ada hanyalah Allah SWT yang diketahui lewat hukum-hukumnya dalam al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas.

Sekarang pertanyaan yang muncul, kapan tunduk, patuh dan taat kepada aturan Allah SWT itu? Marilah kita mengingat perkataan Rosulullah Dalam sebuah hadits:

“Bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada!” [HR. Turmudzi].

Jadi jawabannya sangat tegas, yaitu setiap saat. Sungguh sabda Rosulullah SAW itu sangat gamblang untuk dipahami. Kita juga harus mengingat bahwasannya Allah SWT itu menghisab seluruh perbuatan manusia. Allah tidak hanya akan menghisab aktivitas kita ketika dimasjid saja atau sedang di pengajian. Sebaliknya, Dia Dzat Maha Tahu akan meminta pertanggungjawaban manusia dimanapun saja dan kapan saja, baik di kamar mandi, di tengah rumah, di kendaraan, di jalan, di pasar, di kampus, di ruang pengadilan, di gedung-gedung pemerintahan, dan di semua tempat lainnya. Semua perbuatan akan diminta pertanggungjawabannya apakah sesuai dengan Islam atau tidak, apakah sesuai dengan visi dan misi hidup didunia yaitu ibadah, ataukah tidak. Allah SWT berfirman:

“Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Qs. Ath-Thur [52]: 21).

“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Qs. Al-Muddatstsir [74]: 38).

Bila hidup manusia sesuai dengan tugas yang diberikan Allah SWT kepada manusia maka hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, bila tidak, ia akan nestapa di dunia dan di akhirat. Untuk itu patut direnungkan firman Allah SWT berikut:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Hadid [57]: 16).

Sungguh, ayat di atas merupakan pertanyaan retoris bagi mereka yang tetap tidak mau menundukkan dirinya kepada aturan-aturan Allah SWT. Sekarang sudah tiba waktunya! Dan Allah menyindir orang beriman “Belumkah datang waktunya…” Benar, sekarang sudah tiba waktunya. Kapan lagi ketundukan, kepatuhan, dan ketundukan kepada Allah SWT bila bukan sekarang. Besok lusa mungkin nyawa sudah tiada. Jauh-jauh sebelumnya Rasulullah SAW mengingatkan:

“Bersegerahlah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kalian nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan.” [HR. At-Turmudzi].

Benar, tidak ada yang perlu ditunggu! Kini saatnya memproklamirkan: hidupku untuk ibadah! Hanya dengan langkah begini hidup menjadi punya makna. Bila tidak, apa bedanya dengan hidup hewan. Na’udzu billahi min dzalik.

Sumber: Menjadi Pembela Islam, MR Kurnia

Muslim Teoritis

Wednesday, April 20th, 2005

Betapa banyak orang yang tahu tentang Islam, ia tahu bahwa ada perintah Allah swt (wajib) tetapi masih diabaikannya, ia tahu larangan Allah swt (haram) tetapi masih dikerjakannya. Ia telah menjadi muslim/muslimah teoritis, baginya Islam hanya setumpuk informasi yang ia simpan digudang memorinya. Islam menjadi kering tanpa makna!, tidak aplikatif dalam kehidupannya!

Mereka bisa jadi, tidak menjalankan syari’at Allah swt dengan alasan belum memperoleh hidayah Allah swt. Jangan!, jangan kambing-hitamkan Allah swt yang tidak memberikan hidayah, jangan tambah lagi kemaksiaatan baru dengan berburuk sangka kepada Allah swt. Allah swt telah menurunkan hidayah-Nya kesetiap manusia, manusia saja yang ingkar dan sombong serta tidak mau membuka pintu hatinya menerima kebenaran yang datangnya dari Allah swt.

Lihatlah para artis itu betapa islami penampilannya dengan jilbab selama bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu ia tanggalkan semuanya dan kembali kezaman jahiliyah dengan aurat bertebaran. Ia pikir, Islam hanya ada dibulan Ramadhan?

Lihatlah remaja putri dan Ibu-ibu shalat tarawih dimesjid, dengan mukena indah dan rapi menutup aurat. Tetapi sepulang dari mesjid ia tanggalkan mukena itu, yang tersisa baju kaos ketat dan celana pendek diatas lutut. Ia pikir, Islam hanya ada dimesjid?

Islam tidak terbatas dalam waktu tertentu, yakni dibulan Ramadhan saja. Islam tidak terbatas ditempat tertentu, yakni dimesjid saja. Islam berlaku disegala zaman dan disemua tempat. Syari’at yang berlaku di negeri Arab juga berlaku disini, syari’at yang berlaku dizaman Rasulullah saw juga berlaku dizaman ini. Judi dizaman Rasulullah dengan panah dan sekarang dengan pacuan kuda. Tekniknya saja yang berkembang, tetapi tetap judi dan haram hukumnya.

Satu masalah kecil masuk WC, diatur oleh syari’at Allah swt yang mulia. Untuk masuk WC baca do’a, masuk dengan kaki kiri, ada adab dalam WC, keluar WC baca do’a lagi dan keluar dengan kaki kanan. Perhatikan!, satu masalah kecil MASUK WC ada aturannya dalam Islam (Al-Quran dan sunnah), mustahil Islam tidak mengatur MASUK PASAR untuk berdagang, MASUK PERUSAHAAN untuk bekerja, MASUK RUMAH TANGGA disaat menikah, MASUK NEGARA untuk mengurus rakyat, MASUK MASYARAKAT untuk bersosialisasi, dan MASUK-MASUK yang lainnya. Maha Suci Allah swt atas kealpaan dalam mengatur urusan manusia yang diciptakan-Nya, tidak ada secuil urusan-pun yang terlupakan oleh Allah swt.

Sehingga, setiap sisi kehidupan kita harus mengikuti syari’at Allah swt, apakah aktifitas individu, jama’ah atau negara, sama-sama harus mengikuti aturan Allah swt (syari’at Islam). Lantas, bagaimana kita tahu telah melanggar aturan atau tidak, jika kita tidak mempelajari aturan itu. Itulah gunanya untuk mengkaji Islam lebih dalam, agar kita tahu adakah rambu-rambu Allah swt yang telah dilanggar.

Karena setiap amal kecil maupun besar, tampak maupun tidak tampak, dahulu maupun sekarang, akan diperhitungkan di yaumil akhir nanti (akhirat). Sebesar atom kebaikan akan dihitung sebagai pahala, sebesar atom kemaksiaatan akan dihitung sebagai dosa.

Maka siapa saja mengerjakan kebaikan sebaerat dzarrahpun, niscaya akan melihat (balasan)nya, dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Al-Zalzalah 7-8).

Untuk itu, jangan jadi muslim/muslimah teoritis, tingkatkan pemahaman keislaman kita (aqliyah), kemudian laksanakan dalam setiap gerak langkah kehidupan kita (nafsiyah). Sehingga Islam merasuk kedalam jiwa, mengalir dalam darah, memancar dalam setiap ucapan dan perbuatan, sehingga muslim/muslimah itu bagaikan Islam yang berjalan.

Mari menuju kesempurnaan Islam dengan aqliyah dan nafsiyah Islam tadi, karena kita juga ingin memperoleh hasil yang sempurna, yakni syurga Allah swt.

Wallahua’lam,

Berpikir Serius (At-Tafkîr al-Jaddiyyah)

Wednesday, April 20th, 2005

Seorang pemikir, baik yang berpikiran sederhana dan dangkal (sathhî), yang mendalam (`amîq) ataupun yang tercerahkan (mustanîr), harus selalu serius dan sungguh-sungguh di dalam berpikir. Memang benar, seseorang yang berpikir sederhana dan dangkal (al-mufakkir as-suthhî), kesederhanaan atau kedangkalannya dalam berpikir tidak akan membantunya untuk berpikir serius. Akan tetapi, ketika dia berusaha menjauhkan diri dari kesia-siaan dan keterbiasaan (rutinitas) berpikirnya yang sederhana dan dangkal, dia akan mampu berpikir serius. Keseriusan dalam berpikir tidak selalu membutuhkan kedalaman, meskipun kedalaman dalam berpikir jelas akan mendorong pelakunya untuk senantiasa berpikir serius. Keserius-an dalam berpikir juga tidak selalu membutuhkan kecemerlangan, meskipun kecemerlangan berpikir meniscayakan keseriusan dalam berpikir. Alasannya, keseriusan dalam berpikir tidak lain adalah berpikir yang memiliki tujuan (bukan asal berpikir) yang didukung oleh adanya usaha untuk merealisasikannya, di samping disertai dengan adanya gambaran yang baik tentang fakta yang akan atau sedang dipikirkan.

Berpikir tentang suatu bahaya, misalnya, bukanlah semata-mata dimaksudkan untuk membahas tentang adanya bahaya tersebut, tetapi dalam rangka menjauhinya. Berpikir tentang makan bukanlah dimaksudkan sekadar membahas aktivitas makan, tetapi dalam rangka mengupayakan bagaimana caranya supaya bisa makan. Berpikir tentang permainan juga bukan semata-mata membahas tentang permainan tersebut, tetapi ditujukan dalam rangka ikut bermain. Berpikir tentang keindahan bukan pula sekadar membahas keindahan tersebut, tetapi dimaksudkan untuk menikmatinya. Berpikir tentang perjalanan tanpa tujuan tertentu bukanlah semata-mata memikirkan perjalanan tersebut, tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kebosanan. Berpikir tentang pembuatan undang-undang bukan pula dimaksudkan sekadar untuk membahas undang-undang tersebut, tetapi ditujukan dalam rangka membuat undang-undang. Begitu juga dengan berbagai aktivitas berpikir lainnya, bagaimanapun jenisnya, intinya adalah berpikir tentang sesuatu atau berpikir tentang bagaimana merealisasikan sesuatu yang dipikirkan itu.

Berpikir tentang sesuatu mesti dimaksudkan dalam rangka mengetahuinya. Sementara itu, berpikir tentang realisasi sesuatu tersebut harus ditujukan dalam rangka mewujudkannya. Dalam dua keadaan tersebut (yakni berpikir tentang sesuatu dan realisasinya), tidak boleh ada unsur kesiasiaan. Keterbiasaan (rutinitas) berpikir tentang sesuatu atau tentang bagaimana merealisasikannya juga tidak boleh mempengaruhi seseorang ketika ia ingin berpikir serius. Jika seorang pemikir telah berhasil menjauhkan kesiasiaan dan rutinitas dalam berpikirnya, berarti dia telah berhasil mewujudkan upaya berpikir serius. Pada saat demikian, sangat mudah baginya —meskipun bukan sebuah keniscayaan— untuk mewujudkan tujuan dan berupaya untuk merealisasikannya. Lebih dari itu, akan sangat mudah, bahkan sebuah keniscayaan, baginya untuk mewujudkan gambaran tentang fakta yang ditujunya atau yang dipikirkannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, keseriusan dalam berpikir sangat mungkin dilakukan baik dalam cara berpikir sederhana dan dangkal (sathhî), mendalam (`amîq), ataupun tercerahkan (mustanîr). Memang, secara mendasar, berpikir mendalam dan berpikir yang tercerahkan lebih memungkinkan ditemukan adanya keseriusan di dalmnya, tetapi keseriusan tidak selalu terdapat pada aktivitas berpikir. Bahkan, yang sering dijumpai, kebanyakan manusia berpikir tidak serius.

Akibatnya, mereka senantiasa melaksanakan berbagai amal atau aktivitas hanya semata-mata didasarkan pada aspek rutinitas (kebiasaan) dan kontinuitas (pengulangan). Kesia-siaan dalam cara berpikir mereka sangat tampak dengan jelas. Oleh karena itu, keseriusan dalam berpikir harus diusahakan dengan benar. Dalam hal ini, adanya tujuan merupakan asas dalam berpikir serius, sedangkan usaha untuk mewudkannya merupakan tujuan itu sendiri. Oleh karena itu, mesti dikatakan, bahwa keseriusan dalam berpikir bukan sesuatu yang alamiah; sekalipun pada sebagian orang —jika diperhatikan— keseriusan mereka dalam berpikir adalah hal yang tampak alamiah.

Namun demikian, keseiusan yang kami maksudkan bukanlah keseriusan absolut (mutlak), melainkan keseriusan yang setarap dengan apa yang sedang dipikirkan. Jika “keseriusan” seseorang dalam berpikir tidak setarap dengan apa yang sedang dipikirkannya, maka ia tidak dikatakan sedang berpikir serius. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

Orang yang sedang berpikir tentang perkawinan tetapi ia tidak bermaksud untuk merealisasikan perkawinan tersebut. Pada saat demikian, ia tidak dikatakan sedang berpikir serius. Orang yang memikirkan perdagangan tetapi malah mengin-fakkan seluruh harta dagangannya yang mungkin akan memberikan keuntungan baginya juga tidak dikatakan sebagai orang yang serius memikirkan perdagangannya.

Orang yang berpikir ingin menjadi hakim tetapi tidak berusaha mewujudkannya dan hanya berupaya sekadar untuk menjadi karyawan di kantor pengadilan juga tidak bisa dipandang sebagai orang yang berpikir serius ingin menjadi hakim, tetapi hanya mungkin dianggap serius berpikir untuk menjadi seorang karyawan. Demikian pula seseorang yang berpikir agar bisa memberi makan keluarganya tetapi malah bermain-main dan berkeliling di pasar tanpa usaha. Pada saat demikian, ia pun tidak dianggap sebagai orang yang serius dalam memikirkan nafkah keluarganya. Demikianlah seterusnya. Walhasil, berpikir serius meniscayakan adanya usaha untuk merealisasikan apa yang dipikirkan, dan usaha tersebut harus setarap dengan tujuannya. Jika seseorang tidak berusaha untuk merealisasikan tujuan dalam berpikirnya-meskipun sampai pada tarap pemikiran tertentu-atau berusaha mewujudkannya tetapi tidak setarap dengan apa yang dipikirkannya, maka ia tidak dianggap serius dalam berpikir.

Klaim seseorang bahwa ia serius dalam berpikir tidaklah cukup untuk membuktikan keseriusannya. Begitu juga usahanya untuk menciptakan berbagai kondisi, fenomena, atau gerakan tertentu; baik berupa gagasan ataupun gerakan fisik; tidak cukup untuk menunjukan bahwa ia berpikir serius. Akan tetapi, yang menunjukkan seseorang serius dalam berpikir adalah upaya realnya untuk melaksanakan berbagai aktivitas fisik yang setarap dengan apa yang dia pikirkan. Dengan demikian, upaya real untuk melaksanakan sejumlah aktivitas fisik yang setarap dengan apa yang dipikirkan merupakan hal yang harus ada demi terwujudkan keseriusan dalam berpikir atau menjadi dalil bahwa seseorang berpikir serius.

Berbagai umat dan bangsa yang terpuruk, individu-individu yang malas, orang-orang yang tidak mau menanggung berbagai risiko, orang-orang yang didominasi rasa malu; rasa takut, atau ketergantungan kepada yang lain biasanya tidak pernah serius dalam apa yang mereka pikirkan. Alasannya, keterpurukan biasanya akan mendorong seseorang untuk senantiasa menginginkan yang mudah-mudah, sehingga dia enggan menyibukan dirinya untuk mengupayakan hal-hal yang lebih sulit dan berisiko; kemalasan bertentangan dengan keseriusan; ketidakmauan menanggung risiko akan memalingkan seseorang dari keseriusan; sementara rasa malu, takut, dan ketergantungan kepada yang lain juga akan menghalangi seseorang dari keseriusan.

Oleh karena itu, upaya mengangkat taraf berpikir, menghilangkan kemalasan, menghapus keengganan untuk menanggung risiko, membedakan antara rasa malu —yang wajib dimiliki karena sesuatu— dan keberanian, serta senantiasa bergantung pada diri sendiri (mandiri) merupakan beberapa hal yang harus dimiliki. Dengan begitu, akan terwujud keseriusan dalam berpikir pada setiap individu, bangsa, dan umat.

Sebab, keseriusan dalam berpikir tidak akan terwujud secara spontan, tetapi harus selalu diupayakan secara serius untuk diwujudkan.

Harus dipahami bahwa, urgensi atau keharusan dari adanya keseriusan dalam berpikir bukanlah tujuan dari berpikir itu sendiri, atau bukan demi mewujudkan pemikiran itu sendiri (sekadar demi kepuasan intelektual). Akan tetapi, yang betul, berpikir harus dilakukan semata-mata demi meraih suatu manfaat, bagaimanapun wujudnya. Lebih dari itu, berpikir harus dilakukan dalam rangka direalisasikan. Artinya, berbagai pemikiran yang dihasilkan oleh para ulama dan cendekiawan ataupun berbagai pengetahuan yang telah mereka capai sejatinya bukanlah ditujukan demi kepuasan, kesenangan, atau kenikmatan intelektual semata. Akan tetapi, semua itu dimaksudkan untuk dimanfaatkan atau direalisasikan dalam kehidupan. Oleh karena itu, salah besar jika ada orang mengatakan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan dicari semata-mata demi ilmu itu sendiri. Oleh karena itu pula, filsafat Yunani, misalnya, tidak bernilai sedikitpun, karena hanya merupakan sekumpulan pemikiran untuk dinikmati semata. Demikian pula seluruh ilmu pengetahuan yang tidak ada bisa dimanfaatkan.

Sebab, ilmu pengetahuan sejatinya tidak dicari untuk dinikmati, tetapi untuk direalisasikan atau dimanfaatakan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa para filosof Yunani dan pengikutnya adalah orang-orang yang serius dalam berpikir. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa para ulama modern di kalangan kaum Muslim yang memperlakukan ilmu balâghah layaknya filsafat —seperti berbagai komentar sa`ad dalam ilmu balâghah— adalah orang-orang yang berpikir serius. Sebab, pemikiran-pemikiran semacam itu tidak bisa diambil manfaatnya sedikit pun di dalam kehidupan. Di dalamnya hanya ada unsur kenikmatan dalam pengkajian ataupun pembahasan semata.

Memang benar, dilihat dari sisi amal praktis, pemikiran para ahli syair dan sastrawan tidak bisa dimanfaatkan di dalam kehidupan. Akan tetapi, dilihat dari sisi lain, kadang bisa memberikan manfaat.

Alasannya, membaca qasîdah (jenis puisi Arab, penerj.) atau teks-teks sastra Arab lain seperti an-natsr (sejenis prosa, penerj.) akan melahirkan kenikmatan dan membangkitkan semangat. Artinya, mereka yang melakukan aktivitas tersebut telah melakukan pengolahan teks-teks sedemikian rupa meskipun teks itu sendiri merupakan buah dari proses berpikir. Dengan demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka tidak serius dalam berpikir, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di antara mereka juga ada yang tidak serius dan sungguh-sungguh.

Fakta demikian berbeda dengan filsafat. Berpikir filsafat pada faktanya hanyalah ditujukan semata-mata untuk mencapai berbagai “hakikat”, padahal apa yang dipandang oleh para filosof sebagai “hakikat” sebenarnya bukan hakikat; bahkan tidak berhubungan sedikit pun dengan hakikat.

Sementara itu, pernyataan para ulama balâghah yang mengarang karyanya atas dasar metode filsafat —yang menegaskan bahwa aktivitas berpikir mereka sebenarnya untuk mengetahui ilmu balâghah dan agar orang-orang bisa menjadi ahli balâghah— hanyalah sebatas klaim saja. ebab, apa yang ada di dalam ilmu tersebut sebenarnya bukan balâghah, bahkan tidak berhubungan dengan balâghah sedikit pun. Usaha mereka menghasilkan karyanya sebenarnya hanya sekadar dimotivasi untuk membahas dan mencari kenikmatan intelektual semata, tidak sampai pada tujuan untuk menghasilkan ilmu tersebut. Mereka bahkan tidak menghasilkan ilmu tesebut demi mencari kenik-matan intelektual, tetapi lebih karena sesuatu yang lain. Oleh karena itu, mereka tidak bisa dipandang sebagai orang-orang yang serius dan sungguh-sungguh dalam berpikir. Pasalnya, bukan karena mereka tidak sampai pada yang mereka kehendaki, tetapi lebih karena watak mereka yang tidak akan mengantarkan pada apa yang mereka kehendaki. Andaikata mereka memang serius dalam berpikir, mereka tidak mungkin menghasilkan filsafat dan ilmu balâghah yang semacam itu. Sebab, keseriusan dalam berpikir mengharuskan adanya motif (qashd), sementara motif itu sendiri biasanya akan meng-antarkan pada tujuan (ghâyah). Dengan demikian, sekali lagi, mereka tidak memiliki motif apa pun, kecuali hanya sekadar demi pembahasan saja. Walhasil, mereka tidak bisa dianggap serius dalam berpikir.

Keseriusan dalam berpikir tidak mengharuskan adanya “jarak yang dekat” ataupun “jarak yang jauh” di antara berpikir dan amal, karena amal sendiri merupakan buah dari aktivitas berpikir. Seseorang kadang berpikir untuk dapat pergi ke bulan, sementara jarak antara berpikir dengan sampai pada tujuan tersebut acapkali jauh sekali. Ada juga orang yang berpikir tentang makan, tetapi jarak antara berpikir tentang makan dan realisasinya acapkali juga jauh. Sebaliknya, ada juga orang yang berpikir tentang bagaimana membangkitkan umatnya. Akan tetapi, kadang-kadang jarak antara berpikir tentang kebangkitan umat dan realisainyanya begitu dekat sekali. Walhasil, masalahnya bukanlah masalah jarak, karena jarak antara berpikir dan realisasi, tidak pasti dekat atau jauh, tetapi kadang-kadang dekat dan kadang-kadang jauh. Yang terpenting dalam hal ini adalah keharusan adanya realisasi di balik aktivitas berpikir, baik realisasi tersebut diupayakan oleh si pemikir sendiri ataupun oleh pihak lain.

Dengan demikian, berpikir wajib menghasilkan realisasi atau amal; baik berupa perkataan seperti yang dihasilkan oleh para ahli syair dan sastrawan, berupa tindakan nyata seperti yang dihasilkan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu-ilmu pasti; berupa langkah-langkah strategis seperti yang dihasilkan oleh para ahli politik dan ahli perang; ataupun berupa pekerjaan yang bersifat fisik seperti perang, makan, mengajar, dan yang lainnya.

Berdasarkan paparan di atas, untuk dapat menghasilkan buah yang sedang dipikirkan, berpikir mesti dilakukan dengan serius; baik buah tersebut nantinya diperoleh secara langsung atau malah gagal diraih sama sekali. Artinya, keseriusan merupakan faktor yang harus ada dalam aktivitas berpikir. Tanpa ada faktor keseriusan, aktivitas berpikir hanya akan sia-sia dan main-main belaka, serta hanya merupakan rutinitas yang terus-menerus karena adanya pengaruh adat dan kebiasaan. Rutinitas berpikir semacam itu hanya akan menjadikan seorang pemikir menganggap baik kehidupan yang dijalaninya. Lebih dari itu, ia pun akan menjauhkan setiap gagasan tentang perubahan, atau setiap upaya untuk berpikir tentang perubahan, dari benak manusia. []

Diterjemahkan dari Buku At-Tafkîr

karya Syaikh Taqyuddîn an-Nabhânî, hlm. 113-119, yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1973.

Memilih

Wednesday, April 20th, 2005

Memilih

Oleh: Fahmi Amhar

Manusia hidup selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Ketika muda kita diharuskan memilih sekolah, setelah selesai kita wajib memilih pekerjaan, lalu memilih tempat tinggal, memilih pasangan hidup, bahkan juga memilih partai politik untuk menyalurkan aspirasi kita. Kadang kita bingung, apa pegangan atau parameter kita dalam memilih ini.

Rasulullah mengajarkan doa yang bisa ditarik hikmah yang dalam. Doa itu sering dibaca orang seusai sholat. Bunyinya, “Allahumma inni as’aluka salamatan fid dien, wa ‘afiyatan fi jasadi, wa ziyadatan fi ‘ilmi, wabarakatan fi rizqi, wa taubatan qablal maut … ”. Doa ini bisa kita jadikan tips memilih ala Rasulullah.

Yang pertama, Salamatan fid din, pilihan itu harus menyelamatkan agama kita. Kita masih bisa mengkaji Islam, masih bisa ibadah, masih bisa menutup aurat, masih bisa menjauhi yang haram dan menjalankan yang wajib, termasuk untuk berdakwah. Rugi kita memilih sekolah yang keren, tapi nanti merusak aqidah kita. Demikian juga dalam memilih tempat kerja, rumah atau jodoh.

Kedua, Afiyat fi jasadi, pilihan itu harus mampu menjaga kesehatan kita; tidak mengikis tubuh kita sedikit demi sedikit tanpa makna. Apa artinya penghasilan tinggi, tapi badan hancur, sampai nggak bisa ibadah lagi, sehingga kebahagiaan tidak berkelanjutan.

Ketiga, Ziyadatan fi ilmi, pilihan itu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman kita. Kita bergaul atau bekerja tidak untuk makin bodoh. Jadi pilih lingkungan kerja atau pergaulan yang meluaskan wawasan maupun ilmu kita, sebagai bekal amal saleh kita. Karena tiada amal kecuali dengan ilmunya.

Keempat, Barakatan fi rizqi, pilihan itu membawa berkah dalam rizki kita. Rizki kita itu tidak cuma yang berujud materi, tapi juga yang non materi, seperti udara yang segar, suasana aman dan tenang, istri yang shalihah dan seterusnya. Apa artinya pilihan dengan penghasilan besar dan fasilitas mewah, bila lalu jarang ketemu anak istri, sampai akhirnya rumah tangga seperti neraka …

Kelima, Taubatan qabla maut, pilihan itu masih memberi ruang kepada kita untuk memperbaiki diri, taubat, atau bahkan bila perlu menarik diri (mundur) secara baik-baik, bila ternyata ada sesuatu yang haram atau membahayakan di dalamnya. Ada bidang ‘profesi’ yang praktis tidak memberi peluang exit seperti ini, misalnya jadi dealer narkoba.

Nah semua ini, dilandasi dengan pengenalan syariat yang shahih, serta niat yang ihlas, insya Allah akan menjadikan kita meraih kebaikan dalam pilihan-pilihan kita. Karena semua ukuran baik-buruk, berkah-tidak, tentu saja tidak oleh ukuran manusia yang picik ini, tapi oleh ukuran-ukuran yang ditetapkan Allah dalam hukum syariatnya.

Allah SWT berfirman:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah [2]: 216).

APAKAH WANITA ITU JAHAT DALAM SEGALANYA?

Tuesday, April 19th, 2005

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

PERTANYAAN

Dalam buku Nahjul Balaghah karangan Amirul-Mukminin Ali  bin
Abi Thalib r.a terdapat suatu keterangan:

     "Wanita itu jahat dalam segalanya. Dan yang paling
     jahat dari dirinya ialah kita tidak dapat terlepas
     dari padanya."

Apakah  arti yang sebenarnya (maksud) dari kalimat tersebut?
Apakah  hal  itu  sesuai  dengan  pandaigan  Islam  terhadap
wanita? Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.

JAWAB

Ada dua hal yang nyata kebenarannya, tetapi harus dijelaskan
iebih dahulu, yaitu:

Pertama,   yang   menjadi   pegangan   atau    dasar    dari
masalah-masalah agama ialah firman Allah swt. dan sabda Nabi
saw, selain dari dua ini, setiap  orang  kata-katanya  boleh
diambil  dan  ditinggalkan.  Maka,  Al-Qur'an dan As-Sunnah,
kedua-duanya adalah sumber yang kuat dan benar.

Kedua, sebagaimana telah  diketahui  oleh  para  analis  dan
cendekiawan  Muslim,  bahwa semua tulisan yang ada pada buku
tersebut  di  atas  (Nahjul  Balaghah),  baik  yang   berupa
dalil-dalil   atau  alasan-alasan  yang  dikemukakan,  tidak
semuanya tepat. Diantara hal-hal  yang  ada  pada  buku  itu
ialah  tidak menggambarkan masa maupun pikiran serta cara di
zaman Ali r.a.

Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dalil dan tidak  dapat
dianggap  benar, karena semua kata-kata dalam buku itu tidak
ditulis oleh Al-Imam Ali r.a.

Didalam penetapan ilmu agama, setiap ucapan  atau  kata-kata
dari  seseorang,  tidak  dapat  dibenarkan, kecuali disertai
dalil  yang  shahih  dan  bersambung,   yang   bersih   dari
kekurangan atau aib dan kelemahan kalimatnya.

Maka,  kata-kata  itu tidak dapat disebut sebagai ucapan Ali
r.a. karena tidak bersambung dan tidak mempunyai sanad  yang
shahih.  Sekalipun  kata-kata  tersebut mempunyai sanad yang
shahih, bersambung, riwayatnya adil dan  benar,  maka  wajib
ditolak,  karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil dan
hukum  Islam.  Alasan  ini  terpakai  di  dalam  segala  hal
(kata-kata) atau fatwa, walaupun sanadnya seterang matahari.

Mustahil  bagi  Al-Imam  Ali r.a. mengatakan hal itu, dimana
beliau sering  membaca  ayat-ayat  Al-Qur'an,  di  antaranya
adalah:

     "Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada
     Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang,
     yang kemudian darinya Allah lantas menciptakan
     istrinya, dari keduanya Allah mengembangbiakkan
     laki-laki dan wanita yang banyak ..." (Q.s.
     An-Nisa': 1)
    
     "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya
     (dengan firman-Nya): 'Bahwa sesungguhnya Aku tiada
     mensia-siakan amal orang-orang yang beramal di
     antara kamu, baik laki-laki maupun wanita,
     (karena) sebagian darimu adalah keturunan dari
     sebagian yang lain ..." (Q.s. Ali Imran: 195).
    
     "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah
     Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
     sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
     kepadanya, dan Allah menjadikannya diantara kamu
     rasa kasih dan sayang ..." (Q.s. Ar-Ruum: 21).

Masih  banyak  lagi  di antara ayat-ayat suci Al-Qur'an yang
mengangkat dan memuji derajat kaum  wanita,  disamping  kaum
laki-laki. Sebagaimana Nabi saw. bersabda:

     "Termasuk tiga sumber kebahagiaan bagi laki-laki
     ialah wanita salehat, kediaman yang baik dan
     kendaraan yang baik pula." (H.r. Ahmad dengan
     sanad yang shahih).
    
     "Di dunia ini mengandung kenikmatan, dan
     sebaik-baik kenikmatan itu adalah wanita yang
     salehat." (H.r. Imam Muslim, Nasa'i dan Ibnu
     Majah).
    
     "Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah wanita
     yang salehat, maka dia telah dibantu dalam
     sebagian agamanya; maka bertakwalah pula kepada
     Allah dalam sisanya yang sebagian."

Banyak  lagi  hadis-hadis dari Nabi saw. yang memuji wanita;
maka mustahil bahwa Ali r.a. berkata sebagaimana di atas.

Sifat wanita itu berbeda dengan sifat  laki-laki  dari  segi
fitrah;  kedua-duanya  dapat  menerima  kebaikan, kejahatan,
hidayat. kesesatan dan sebagainya.

Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an,

     "Jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya); maka
     Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan
     dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang
     yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya
     merugilah orang yang mengotorinya." (Q.s.
     Asy-Syams: 7-10)

Mengenai fitnah yang ada pada wanita disamping  fitnah  yang
ada   pada   harta  dan  anak-anak,  dimana  hal  itu  telah
diterangkan di dalam Al-Qur'an dan dianjurkan supaya  mereka
waspada dan menjaga diri dari fitnah tersebut.

Dalam  sabda Rasulullah saxv. diterangkan mengenai fitnahnya
kaum wanita, yaitu sebagai berikut,

     "Setelah aku tiada, tidak ada fitnah yang paling
     besar gangguannya bagi laki-laki daripada
     fitnahnya wanita." (H.r. Bukhari).

Arti dari hadis di atas menunjukkan bahwa wanita  itu  bukan
jahat,  tetapi  mempunyai  pengaruh yang besar bagi manusia,
yang dikhawatirkan lupa pada kewajibannya, lupa kepada Allah
dan terhadap agama.

Selain  masalah  wanita, Al-Qur'an juga mengingatkan manusia
mengenai fitnah yang disebabkan dari harta dan anak-anak.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

     "Sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah
     fitnah (cobaan bagimu); dan pada sisi Allah-lah
     pahala yang besar." (Q.s. At-Taghaabun: 15)
    
     "Hai orang-orang yang beriman!Janganlah
     harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu
     mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat
     demikian' maka mereka termasuk orang-orang yang
     merugi." (Q.s. Al-Munaafiquun: 9).

Selain dari itu (wanita,  anak-anak  dan  harta  yang  dapat
mendatangkan fitnah), harta juga sebagai sesuatu yang baik.

Firman Allah swt.:

     "Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari
     jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dan
     istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu; dan
     memberimu rezeki dari harta yang baik-baik ..."
     (Q.s. An-Nahl: 72)

Oleh  karena  itu,  dianjurkannya  untuk waspada dari fitnah
kaum wanita, fitnah  harta  dan  anak-anak,  hal  itu  bukan
berarti  kesemuanya  bersifat  jahat,  tetapi  demi mencegah
timbulnya fitnah yang dapat  melalaikan  kewajiban-kewajiban
yang telah diperintahkan oleh Allah swt.

Allah   swt.  tidak  mungkin  menciptakan  suatu  kejahatan,
kemudian dijadikannya sebagai suatu kebutuhan dan  keharusan
bagi setiap makhluk-Nya.

Makna  yang  tersirat  dari suatu kejahatan itu adalah suatu
bagian yang amat sensitif,  realitanya  menjadi  lazim  bagi
kebaikan secara mutlak. Segala bentuk kebaikan dan kejahatan
itu berada di tangan (kekuasaan) Allah swt.

Oleh  sebab  itu,  Allah  memberikan  bimbingan  bagi   kaum
laki-laki  untuk menjaga dirinya dari bahaya dan fitnah yang
dapat  disebabkan  dan  mudah   dipengaruhi   oleh   hal-hal
tersebut.

Diwajibkanjuga   bagi   kaum   wanita,   agar   waspada  dan
berhati-hati dalam menghadapi tipu muslihat yang  diupayakan
oleh  musuh-musuh Islam untuk menjadikan kaum wanita sebagai
sarana perusak budi pekerti, akhlak yang luhur dan  bernilai
suci.

Wajib  bagi  para  wanita  Muslimat  kembali  pada kodratnya
sebagai wanita yang saleh, wanita hakiki, istri salehat, dan
sebagai ibu teladan bagi rumah tangga, agama dan negara.

---------------------------------------------------
Fatawa Qardhawi: Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi