KIAT MENGHADAPI BALITA YANG HOBI BIKIN “HURU-HARA”


Namanya juga anak kecil, satu saat ia pasti rewel, mengamuk, menangis. Pokoknya, membuat ulah yang bisa membuat kita jengkel. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, apa sebabnya dan bagaimana cara tepat mengatasinya?

APA, SIH, SEBABNYA?
Sifat rewel adalah suasana hati yang bisa disamakan seperti petir di siang hari bolong. Munculnya tiba-tiba dan kadang demikian dahsyat. Saat Anda dan si kecil sedang asyik-asyiknya menikmati makan malam di sebuah restoran, tiba-tiba dia merengek bahkan berteriak minta pulang.

Umumnya "kejutan-kejutan" seperti itu diberikan anak usia 1 sampai 3 tahun. Yang patut dipahami dan diketahui, kerewelan anak bukan suatu hasil manipulasi. Anak hanya merasa frustrasi dan mereka masih sulit mengungkapkan sesuatu ke dalam kata-kata. Akibatnya, yang muncul adalah perilaku rewel tadi. Memang, anak balita sudah tahu dan mengerti kata-kata yang mereka dengar, namun kemampuan mereka mencerna dan mengungkapkan dalam kata-kata masih sangat terbatas.
Im000085  
SIKAP APA YANG HARUS DIAMBIL?
Tetaplah tenang. Memang, sih, kerewelan bukanlah pemandangan yang enak didengar dan dilihat. Selain menendang, berteriak, atau membanting kakinya di lantai, tak jarang pula si kecil melempar benda-benda, memukul, dan bahkan dapat berubah menjadi sedih.

Celakanya lagi, bila anak sedang rewel, dia tidak mau mendengar apa yang kita katakan. Justru sebaliknya, dia akan memberi respons negatif, yaitu berteriak atau mengancam. Semakin kita berkata, ‘Stop!", semakin parah pula tindakannya.

Jadi? Ya, itu, tadi, bersikap tenang. Justru kalau kita tidak memberi reaksi berlebihan, diam, tetap di dekatnya dengan sikap tenang, dia akan berhenti "mengamuk".

BAGAIMANA LANGKAH SELANJUTNYA?
Meninggalkan dia sambil membanting pintu justru membuat anak merasa tidak diperhatikan. Perasaan galau yang dirasakannya justru menakutkannya dan membuatnya semakin berulah demi menarik perhatian Anda. Sebaliknya, bila dia tahu Anda berada di dekatnya, dia akan merasa tenang.

Jangan tinggalkan dia sendirian pada saat dia sedang mengamuk. Justru sebaliknya, dekati dia. Bila mungkin (misalnya bila kemarahannya tidak terlalu parah), gendong dan peluklah dia. Pelukan Anda dapat membuatnya tenang.

Jangan lupa, Anda lebih tua dari dia. Tidak perduli berapa lama kebiasaan tersebut berlangsung, jangan mengikuti kemauan anak yang tidak masuk akal atau bernegosiasi dengan anak yang sedang mengamuk. Terutama bila untuk menutupi rasa malu karena terjadi di muka umum. Cobalah untuk tidak perduli terhadap apa kata orang.

Percayalah, setiap orang yang pernah menjadi orang tua, pasti pernah mengalami hal sama. Dengan mengikuti kemauan anak, berarti Anda mengajarkan, dengan mengamuk dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan di lain waktu dia akan melakukan hal sama bila kemauannya tidak dituruti.

Bila kemarahan anak memuncak sehingga dia memukul orang atau binatang, melempar benda-benda, atau berteriak tanpa henti, gendong dia dan bawa ke tempat yang aman. Misalnya, ke kamarnya, di tempat di mana dia tidak dapat menyakiti dirinya sendiri. Jelaskan alasanmengapa dia dibawa ke tempat tersebut ("Karena kamu memukul Tante Dita"). Katakan juga, Anda tidak akan meninggalkan dia seorang diri sampai kerewelannya berhenti.

BAGAIMANA KALAU IA MENGAMUK DI MUKA UMUM?
Jika kebetulan Anda berada di tempat umum(tempat yang umumnya membuat kerewelan anak meledak) bersiap-siaplah untuk meninggalkan tempat tersebut sampai amukan si kecil mereda.

Begitu ia sudah tenang dan bisa diajak bicara, dekap dia dan bicarakan mengenai apa yang telah terjadi. Tunjukkan padanya, Anda mengerti apa yang menyebabkan dia marah. Misalnya, saat dia tiba-tiba minta pulang di restoran, katakan, "Mama tahu, kamu sangat marah karena makanannya tidak sesuai dengan yang kamu pesan." Tunjukkan padanya, begitu dia mengungkapkan perasaannya secara lisan, dia akan merasa lebih enak. Katakan sambil tersenyum,"Mama minta maaf karena tadi Mama tidak mengerti masalahnya.

Sekarang karena kamu tidak berteriak, Mama jadi mengerti apa yang membuat kamu kesal"
Cobalah untuk mengatasi situasi ini. Cari tahu apa yang membuat si kecil marah dan lakukan sesuatu. Bila dia rewel karena lapar, beri dia makanan. Bila dia bermasalahsaat pergantian dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya,beri contoh bagaimana caranya.

Misalnya, memberitahu anakbahwa Anda akan pergi saat ia masuk kelas taman bermain atau duduk manis di meja makan. Katakan pada anak, "Kita akan segera makan bila kamu dan Ayah sudah selesai dengan cerita kalian." Cara ini akan memberinya kesempatan beradaptasi dan justru tak akan menimbulkan reaksi negatif darinya.

KAPAN HARUS KONSULTASI?

1. Masa kanak-kanak adalah masa berjuang untuk tidak tergantung dari orang lain. Jadi, bila mungkin, berilah kesempatan pada mereka. Siapa pun tidak suka bila selalu diatur. Lebih baik katakan, "Kamu mau makan apa, jagung atau wortel?" daripada berujar, "Kamu makan jagung, ya" yang memberi kesan perintah.

2. Tanyakan pada diri Anda, berapa banyak Anda mengucapkan kata jangan/tidak. Bila ternyata sangat sering, Anda telah menyebabkan stres yang tidak seharusnya bagi diri sendiri dan juga si kecil. Coba kurangi dan atasi dengan cara yang lebih baik. Misalnya, apakah meluangkan waktu 5 menit untuk buah hati dengan menemaninya bermain betul-betul mengganggu jadwal Anda? Pasti tidak, bukan?

3. Jangan lupa pula perhatikan tanda-tanda stres yang berlebihan. Walaupun kebiasaan mengamuk adalah hal wajar yang dialami balita, Anda tetap harus mencari tahu penyebabnya. Apakah ada masalah di dalam keluarga Anda yang sangat mengganggu? Ketegangan antara ibu dan ayah, misalnya? Hal ini dapat merupakan pemicunya.

4. Bila sudah melewati usia 30 bulan dan si kecil masih hobi bikin huru-hara setiap harinya, konsultasikan ke dokter anak Anda. Bila usia anak di bawah 30 bulan, mengamuknya hanya 3 atau 4 kali sehari, dan tidak kooperatif untuk hal-hal yang rutin seperti memakai baju atau mengambil mainan, Anda tetap perlu berkonsultasi.

Dokter anak Anda akan memastikan apakah si kecil punya masalah serius, baik secara fisik maupun psikis. Dokter yang baik pasti akan memberi saran cara mengatasinya, entah merujuk ke psikolog anak atau menyembuhkan penyakit jika si anak memang menderita penyakit.

Comments are closed.