Doa Orang-Orang Tercinta

Prev6_4 Selagi kecil saya tak pernah mengerti ketika Ibu atau Ayah mendekapku  penuh haru setiap kali usai saya membaca doa untuk mereka, "Ya Allah  ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka  seperti mereka menyayangiku di waktu kecil". Bisa saya saksikan air  mata yang keluar dari being mata kedua orang tua setiap kali selesai  sholat berjamaah saya dan adik-adik membaca doa itu bersama-sama.  Bahkan hingga usia remaja pun saya belum mampu memahaminya.

Baru setelah anak saya berusia dua setengah tahun dan mulai rajin  sholat berjamaah, sesudahnya suara-suara mungil kakak beradik itu pun  mengalirkan kalimat doa yang sama yang pernah membuat orang tua saya begitu terharu. Saya dekap mereka dengan pelukan terhangat, tak  terasa air mata tumpah dengan seulas senyum syukur yang tak  terlukiskan.

Meski belum fasih benar mereka melafazkannya, mendengarkan kalimat  itu meluncur dari mulut mungil anak-anak itu sudah membuat saya  merasa teramat bahagia. Bayangkan, apalagi yang membuat Anda bahagia  sebagai orang tua jika setiap hari aktivitas Anda di luar rumah  senantiasa diiringi doa tulus yang luar biasa dari orang-orang  tercinta, isteri dan anak-anak, "… dan sayangilah mereka seperti  mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil", bisa Anda  bayangkan betapa bahagianya Anda jika setiap doa itu didengar oleh
Allah?

Bisa jadi karena doa itulah hari ini saya tak mengalami kecelakaan di  bis kota. Kekuatan doa itu pula yang menghindarkan saya dari aksi  kejahatan orang-orang tak bertanggungjawab di jalan. Maha Suci Allah  yang menjaga saya berkat doa orang-orang tercinta itu, sehingga saya
mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan hati ini pun senantiasa  terjaga dari maksiat. Bukankah karena Allah sayang kepada saya? dan  jika bukan karena doa saya selepas subuh tadi, atau di sepertiga malam tadi, pastilah karena doa isteri dan anak-anak saya sehingga  Allah berkenan menjaga hamba-Nya yang lemah ini.

Adalah kebahagiaan memiliki buah hati, pencerah mata dan pengukir  senyum yang hadir di tengah-tengah sebuah keluarga. Dan adakah  kebahagiaan yang melebihi dari memiliki pencerah mata yang shalih dan  shalihah?

Kini, saya semakin bisa merasai haru dan bangga yang selama ini  selalu menimbulkan pertanyaan di benak saya semenjak kecil. Haru yang  sama, bangga yang sama, gemuruh hati yang sama yang kini bisa saya  rasakan setiap kali mendengar kalimat doa penuh cinta dari mulut  mungil anak-anak saya. Saya yakin, begitu juga Anda. Semoga.

Bayu Gawtama

Comments are closed.