Hijrah Tak Hanya di Bulan Muharram
Muharram memang identik dengan hijrah. Namun tidak lantas berarti bahwa hanya momentum ini tepat bagi kita untuk melakukan "hijrah". Menjadi lebih baik, bagaimanapun sepantasnya diupayakan setiap saat
BAIK dalam arti fisik maupun substansi, setiap saat adalah momentum yang baik untuk hijrah. Setiap pengalaman hidup juga potensial untuk menjadi sarana berhijrah. Kesuksesan maupun kegagalan. Anugerah maupun bencana. Semua bisa menjadi starting point yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik dan bermakna. Demikian pula fase kehidupan manusia. Kelahiran. Pernikahan, perceraian, dan kematian. Semuanya bisa menjadi momentum yang sangat unik untuk berhijrah. Pengalaman Okky Asokawati dan pengalaman beberapa rekan yang telah dijabarkan di muka adalah contoh konkret upaya perubahan yang dapat dikatagorikan berhijrah adalah pengalaman spiritual yang tidak bisa dan tidak boleh dibatasi hanya pada momentum tahun baru Muharram.
Hijrah, Pengalaman Hidup, dan Konflik Batin
Setiap pribadi memiliki proses kehidupan yang berbeda. Artinya, pelajaran hidup yang dialaminya pun berbeda. Kita sering berujar, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kini sudah selayaknya kita berketetapan had bahwa pengalaman tidak hanya menjadi guru yang paling berharga, melainkan juga sebagai starting point bagi proses perpindahan kita menjadi manusia yang lebih "manusawi" dan berjiwa "rabbani". Maka, setiap pengalaman hidup pun seyogyanya bisa diolah menjadi momen yang tepat untuk berhijrah. Atau berpindah dari yang lebih buruk kepada yang baik. Dari yang salah kepada yang benar. Dari yang artificial kepada yang subtansial. Dan sebagainya.
Berhijrah, dengan demikian, menjadi sebuah pengalaman spiritual yang bisa jadi sangat individual. Sebab, setiap orang, meskipun membaca kitab suci yang sama dan kitab-kitab keagamaan yang sama, ia adalah pribadi yang berproses secara tidak sama dengan pribadi lainnya. Dalam bentuk berbeda, setiap orang mungkin pernah tersandung, terlempar, atau sebaliknya menjadi melesat cepat ke puncak kehidupan. Setiap proses ini adalah pengalaman pribadi yang bisa memperkuat keyakinan seseorang mengapa ia mesti berubah. Berhijrah. Karena ia mengalami. Pengalaman yang menambah keyakinan dari apa yang ia dengar dan baca dari kitab suci.
Hijrah Rasulullah saw. ke Madinah pun sebuah proses yang sarat pengalaman hidup. Nabi berada dalam kesulitan ketika semangat menyebarkan agama kebenaran selalu terbentur dengan kuatnya arogansi kekafiran. Hijrah dengan tujuan mencari suaka ke Habasyah pun dilakukan ketika terdengar berita Raja negeri ini, Najasyi, yang beragama Nasrani, kooperatif dan bersahabat dengan umat Islam. Sekian lama berlalu. Namun Makkah dengan segala kekerasannya masih mengajak Rasulullah kembali. Dengan semangat baru Rasulullah pun kembali ke Makkah, kota yang sangat dicintainya meski selama ini tidak pernah bersahabat dengan ajaran yang dibawanya. Konflik batin kembali terjadi ketika perintah Allah mengharuskan Rasul-Nya berhijrah ke Madinah. Antara kesedihan meninggalkan tanah tumpah darah yang penuh dengan kenangan hidup berpadu dengan harapan berseminya Islam di tanah baru yang penduduknya menanti, mencintai dan mendukung sang Nabi. Tarik-menarik terus terjadi, maka ketika Rasulullah saw. sudah sangat mapan di Madinah, Makkah tetap tidak terlupakan.
Jika Rasulullah saw. saja mengalami konflik batin ketika titah hijrah itu datang, apalagi kita. Itulah tantangan internal yang mesti dilewati takkala cita-cita meraih kehidupan yang bermakna terbersit di hati kita. Namun, sekali tantangan itu terlewati, insya Allah jalan indah menuju kebahagiaan sejati membentang di sana.
Hijrah Harus Menguntungkan
Hijrah memang tak semudah membalik telapak tangan. Mesti ada keberanian merubah orientasi hidup dengan kesadaran penuh. Bukan sekedar peringatan Hari Besar 1 Muharram. Maka, sungguh benar Rasulullah saw. ketika mengingatkan agar dalam berhijrah kita tak hanya berkorban, tetapi sekaligus juga harus beruntung. Caranya? Ketika hendak berhijrah kita tetapkan niat kita: ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya. Semua pilihan hidup kita tidak terlepas dari tujuan mencari ridha Allah. Berbuat A, memilih pekerjaan B, menikah dengan C, berpisah dengan D, meninggalkan daerah E, memasuki bidang F, dan sebagainya, semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah. Dengan cara ini pengorbanan dan kesulitan yang menyertai setiap pilihan tidak lagi kita rasakan sebagai siksaan dan kepedihan. Sebab, ada tujuan yang lebih tinggi dari itu semua. Allah dan Rasul-Nya.
Semoga di bulan Muharram ini niat kita terpancang untuk berhijrah sesuai dengan sabda Nabi, "Sesungguhnya segala perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapai ganjaran sesuai dengan niatnya itu. Barang siapa berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya akan berpahala di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dan harang siapa herliijrah demi dunu dan keindahannya, maka ia (hanya) akan mendapatkan liasil sesuai dengan yang dituju itu (tidak medapat paliala dari sisi Allahy HRJama’ah dari Umar bin Khattab. • Badnyah Fayumi