Mengendalikan Hawa Nafsu

Web_2111_622103_1091021751 Setelah pulang dari perang Badar yang dahsyat, Rasulullah bersabda, "Kita baru saja pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang lebih besar yaitu jihadunnafs (jihad melawan nafsu). Begitulah di mata Allah, melawan hawa nafsu nilainya jauh lebih besar dibandingkan jihad pada perang Badar

MEMERANGI hawa nafsu sendiri, memang bukan masalah sepele. Bisa diumpamakan nafsu itu sebagai kuda, sedangkan hati nurani adalah penunggangnya. Sebagai seekor kuda dia akan menjadi kuda yang baik atau tidak sepenuhnya tergantung kepada penunggangnya. Maka bila ada orang yang selalu melampiaskan hawa nafsunya tanpa kontrol, itu tak lain karena yang menjadi penunggangnya bukan hati nurani melainkan syetan. Sebab bila syetan telah menguasai nafsu kita, kita akan mengikuti apa yang dibisikkannya, dan perilaku kita pun menjadi tak terkontrol. Tak heran bila Rasulullah selalu berpesan agar setiap manusia, setiap saat, selalu berdoa kepada Allah Swt., mohon dilindungi dari godaan syetan.

Sifat Hawa Nafsu

Ada sebuah kisah seorang mukmin yang masih muda melintasi rumah seorang perempuan kafir. la cantik namun suka bermaksiat. Perempuan itu tiba-tiba berteriak minta tolong. "Hai pemuda tolonglah saya." Pemuda tadi ragu namun akhirnya menghampiri rumah perempuan itu. Betapa kagetnya pemuda itu karena perempuan itu langsung menutup pintu dan menguncinya.

Wahai pemuda yang beriman, di sini kita hanya berdua dan ada anak kecil saja. Perempuan yang berniat jahat itu mulai menggodanya. "Pilihlah apa engkau mau minum arak atau bercinta denganku atau membunuh anak kecil itu?" "Tidak aku tak bisa melakukan itu semua." Perempuan itu tertawa dan memaksanya. Dia mengancam akan berteriak dan mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya diperkosa.

Wajah pemuda itu merah, bingung. Karena imannya tak kuat maka ia memilih meminum arak dengan anggapan itulah dosa yang paling ringan. Maka ia pun meminum arak yang ada di botol. Tak lama kemudian pemuda itu mabuk, sehingga saat perempuan itu menggodanya untuk melakukan maksiat, pemuda itu tak bisa mengontrol dirinya walaupun ia telah berusaha keras.

Setelah bermaksiat perempuan itu lalu berkata, " Engkau telah minum minuman haram, lalu bermaksiat denganku, sedangkan anak kecil itu melihatmu." Karena kalut, tanpa pikir panjang diambilnya pedang itu dan dibunuhnyalah anak kecil tersebut. Sesaat ia terhenyak, "Astagfirullah! Ya Allah aku telah berbuat zalim dan membuat dosa terbesar…."

Pemuda itu menyesali dirinya, namun apa daya ibarat nasi telah menjadi bubur. Gara-gara tak bisa mengontrol hawa nafsu dia telah berbuat dosa besar.

Dan cerita di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa hawa nafsu yang tak terkontrol bisa mengakibatkan penderitaan dan dosa yang besar. Karena memanglah demikian, bila kita melakukan satu kali, meski kecil, akan terus bersambung ke dosa besar, bila tak segera taubatan nasuha

Kiat Mengendalikan Nafsu

Nafsu tak terkontrol itu bukan hanya cerita dan mulut ke mulut. Pada masa kini maraknya pergaulan bebas menjadi contoh yang nyata. Karena tak kuat iman, maka nafsu pun menjadi raja di hati. Terjadilah maksiat dan si perempuan hamil. Urusan pun berlanjut, karena takut dan panik sang pria menyuruh menggugurkan Janin di rahim kekasihnya. Jadilah mereka pembunuh anak manusia yang tak berdaya! Dosa bertumpuk, bermaksiat, berzina, dan membunuh!

Karena itu hawa nafsu harus dikendalikan. Rasulullah telah mengajarkan untuk hidup dalam kesucian. Menjaga kesucian itu meliputi banyak hal mulai dan menjaga penglihatan, pendengaran sampai menjaga hati. Berikut ini ada kiat menjaga hal-hal tersebut, agar nafsu dapat ditanggulangi.

Menjaga Mata & Telinga

Tutup mata, tutup telinga terhadap dosa. Itu perintah yang sangat bijak, sebaliknya buka mata dan buka telinga untuk segala kebaikan yang berpahala. Ingatkan diri kita kalau melihat yang haram (aurat) nanti akan dibakar api neraka. Jangan membangunkan harimau tidur, kata pepatah. Jangan membangunkan nafsu, bila kita tahu bahwa kita tak mampu mengendalikannya.

Menjaga Mulut

Mulut ibarat pedang, bila kebenaran yang keluar maka selamatlah kita. Tapi bila hal yang tidak benar yang terucap, maka celakalah yang dihasilkan. Bicaralah hal-hal yang baik saja. Bila saat puasa Ramadhan kita mampu atau paling tidak mau berusaha untuk mengendalikan ucapan kita, mengapa hal itu tidak kita pertahankan? Selama ada pepatah diam itu emas, ada pula pesan Rasulullah tentang menjaga mulut mi, " bila belum bisa berbicara yang baik lebih baik diam."

Menjaga Perut

Makanan sangat berpengaruh pada perilaku. Untuk itu janganlah sampai perut kita diisi dengan makanan yang haram atau dari sumber yang haram atau bahkan subhat. Batasilah makanan. Hadist berisi nasehat yang bijak, makanlah bila lapar dan berhentilah sebelum kenyang, bukan saja baik untuk kesehatan tetapi juga merupakan salah satu latihan untuk mengendalikan nafsu.

Menjaga Hati

Hati adalah lentera. Hati adalah tahta di mana Allah Swt berbicara kepada manusia. Ingatlah pesan yang mulia Rasulullah, ada sesuatu yang kecil dalam diri kita, bila sesuatu itu baik maka baiklah semuanya, bila sesuatu itu buruk maka buruklah semua. Sesuatu itu adalah hati. Maka patutlah kita selalu menjaga hati sebaik mungkin •(NOOR)

Comments are closed.