Bicaralah Layaknya Orang Beriman

July 6th, 2005 by gw-dewi

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia bicara yang baik atau diam." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra.).

Sebagian kaum muslimin memahami secara salah, dimana bicara dan diam adalah pilihan yang setara, sama baiknya. Sehingga mereka bisa memilih antara bicara atau diam. Padahal, tidaklah demikian kita memahami teks hadits diatas. Bicara yang baik dan diam, bukanlah pilihan sikap yang setara. Bicara yang baik, lebih utama daripada diam. Bicara menyuarakan kebaikan yang meluruskan kemungkaran, bicara tentang kebenaran yang memisahkan dari kebathilan, dan bicara yang menyampaikan keindahan dan kemuliaan Islam, jauh lebih baik daripada diam.

Dalam berbagai teks hadits maupun al-Qur’an, Islam selalu mendorong orang-orang beriman untuk bicara. Bicara yang baik dan benar. Orang beriman didorong untuk bisa mengemukakan pendapat yang baik dan benar. Untuk bisa bicara yang baik, memerlukan ilmu yang mendalam dan wawasan yang luas atas permasalahan yang dibicarakan. Maka, menjadi ciri dan karakteristik orang beriman adalah senantiasa bersemangat menuntut ilmu dan memperluas wawasannya. Kegiatan belajar mengajar, dalam berbagai bentuk dan metodenya, menjadi bagian aktifitas keseharian seorang beriman. Menimba ilmu melalui ta’lim, sekolah formal, membaca buku dan literatur, menjadi sesuatu yang akrab dalam kehidupan orang beriman. Demikian pula halnya dengan mengikuti berita dan informasi yang mutakhir, menjadi suatu kebutuhan bagi orang beriman. Tidaklah mungkin pembicaraan menjadi baik apabila ia tidak memiliki relevansi dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Apabila orang beriman malas untuk menuntut ilmu, menutup diri atas informasi dan berita yang terjadi, maka pembicaraannya sangat mungkin menjadi salah, dangkal dan picik. Pada keadaan seperti ini, diam menjadi pilihan yang lebih baik daripada bicara. Dan pilihan ini, jelas tidak lebih baik kedudukannya daripada bicara yang baik. Diam atas suatu permasalahan karena tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentang hal tersebut, diam atas suatu peristiswa karena tidak mengikuti perkembangan yang terjadi atas peristiwa tersebut, menjadi pilihan yang lebih baik, daripada bicara ngawur dan melantur.

Selain memiliki ilmu yang mendalam dan wawasan yang luas atas suatu permasalahan, agar pembicaraan seorang beriman itu baik, ia pun dituntut untuk mampu memperkirakan dampak dari pembicaraannya. Mempertimbangkan akibat dari ucapannya, apakah menjadi lebih baik, tetap, ataukah malah lebih buruk. Seorang beriman akan menyusun rangkaian katanya sehingga menjadi bahasa yang mudah difahami oleh orang yang diajaknya bicara. Ia pun memperhatikan situasi dimana ia bicara, mempertimbangkan kondisi para pendengarnya. Isi pembicaraan yang baik pun akan kehilangan maknanya apabila tidak memperhatikan situasi dan kondisi dimana pembicaraan dilangsungkannya. Bila demikian halnya, maka diam menjadi pilihan yang bijak. Diam menjadi lebih baik daripada bicara tanpa makna dan sia-sia, bukan lebih baik daripada bicara yang baik.

Jadi, antara bicara dan diam, bukanlah pilihan yang sejajar, tetapi bertingkat. Orang beriman diperintahkan untuk bicara, bicara yang baik, bicara tentang kebenaran dan keadilan. Bila ia tidak mampu bicara yang baik, barulah diam menjadi alternatif yang baik dan bijak. Betapa banyaknya, perintah maupun anjuran agar orang-orang beriman itu bicara. Pada satu saat, Rasulullah SAW bersabda: "Katakanlah kebenaran walaupun pahit!"

Adakalanya ucapan yang baik akan menghasilkan resiko yang tidak mengenakkan, baik bagi yang bicara maupun bagi yang mendengarnya. Itulah resiko bicara baik. Orang beriman hanya disuruh untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang sebaik-baiknya, termasuk mempertimbangkan kemungkinan dampak dari pembicaraannya. Lebih daripada itu, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Adakalanya pembicaraan yang baik itu, menimbulkan resiko atas harta, kedudukan dan bahkan bisa membahayakan kehidupannya. Orang beriman menyadari atas resiko ucapannya, dan ia telah memperhitungkannya masak-masak, karenanya ia siap menerimanya. Dalam hadits yang lain pun, Rasulullah SAW pernah mengingatkan: "Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran dihadapan penguasa yang dzalim."

Jelaslah, diam menjadi pilihan yang baik, apabila kita tidak memiliki ilmu dan pengetahuan atas suatu permasalahan yang hendak diperbincangkan. Daripada bicara melantur dan ngawur, diam menjadi pilihan yang baik. Diam pun menjadi alternatif yang bijak, apabila setelah dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak, pembicaraan yang baik sekalipun menjadi tidak berguna apabila ia melihat situasi dan kondisi yang dihadapinya tidak memungkinkan untuk mengharapkan hasil yang baik. Adapun berdiam diri atas suatu kemungkaran atau kemaksiatan yang terjadi di sekelilingnya, sama sekali bukan pilihan yang lebih baik. Diam atas kemungkaran, menunjukkan kondisi keimanan yang paling lemah dari orang beriman.

Jadi, bicaralah kita layaknya orang beriman. Bicara atas dasar keimanan, yang senantiasa ingat pada yaumil akhir dimana seluruh ucapan kita tidak akan pernah luput dari hisab dan balasan. Dengan keimanan seperti itulah, kita bicara sesuatu yang baik dan benar dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai, kita bicara dengan bahasa yang mudah dimengerti pendengarnya, kita bicara dengan cara yang sebaik-baiknya. Setelah memperhatikan situasi dan kondisi yang dihadapi, memperhitungkan dampaknya. Bicaralah, lalu bertawakal atas hasil dari pembicaraannya. Demikianlah orang beriman bicara, sebagaimana diperintahkan dalam tuntunan Islam. Wallahu ‘alam… (KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)[BKS-68]

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

July 5th, 2005 by gw-dewi

Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya.  Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.  Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.  Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

  2. Orang yang duduk menunggu shalat.  Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia.  Ya Allah sayangilah ia’" (Shahih Muslim no. 469)

  3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.  Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

  4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).  Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

  5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

  6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.  Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

  7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.  Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.  Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.  Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’" (Shahih Muslim no. 2733)

  9. Orang - orang yang berinfak.  Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’.  Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

  10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

  11. Orang yang menjenguk orang sakit.  Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

  12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.  Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.  Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

CARA MEMOTONG AYAM

June 27th, 2005 by gw-dewi


Membagi ayam dalam potongan-potongan kecil memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tetapi kalau caranya tidak tepat, potongan tulangnya akan terlihat tidak rapi. Ikuti cara yang benar berikut ini.  


Cara membagi ayam cukup mudah. Yang penting Anda tahu dengan persis letak persendiannya. Mari kita mulai dari depan, bagian bawah.

· Potong kira-kira setengah bagian horisontal. Lalu dibagi dua vertikal.
· Pisahkan bagian pahanya.
· Lepaskan dada bagian depan dari bagian belakang. Bagi 4 bagian.
· Pisahkan sayapnya.
· Sisa ayam yang lain dapat dibagi 2 atau 3 bagian.

 
KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail
KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail KLIK - Detail
 
 

Membuat ayam bakar sering kali tidak dipotong-potong, hanya dilebarkan. Caranya mudah. Potong bagian dadanya jangan sampai putus. Lebarkan ayam. Supaya bumbu lebih meresap dan lebih mudah matang, Anda dapat mememarkannya setelah dilebarkan

Laksa Asam Vietnam

June 27th, 2005 by gw-dewi

KLIK - Detail

BAHAN :
200 gram mi telur, direbus matang, sisihkan
200 gram daging has, diiris tipis
200 gram udang, disisakan ekornya, kerat punggung
1.500 ml air
5 butir bawang merah, diiris tipis
3 siung bawang putih diiris
2 cm lengkuas, dimemarkan
5 lembar daun jeruk, disobek-sobek
1 1/2 sendok makan kecap ikan
1 1/2 sendok makan kecap manis
1 1/2 sendok teh air jeruk nipis
1/2 sendok teh gula pasir
2 sendok teh garam
2 batang daun bawang, dipotong-potong
minyak untuk menumis

BAHAN HIASAN:
daun ketumbar
daun bawang
telur rebus

CARA MEMBUAT :

  1. Tumis bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan daun jeruk sampai harum. 

  2. Tambahkan daging dan udang sambil diaduk hingga berubah warna. 

  3. Tuang air. Masukkan kecap ikan, kecap manis, air jeruk, gula, dan garam. Aduk sampai matang. Menjelang diangkat, taburkan daun bawang. 

  4. Tata mi dalam mangkuk, siram dengan kuah lalu tambahkan hiasan sebelum disajikan.

untuk 4 porsi 

Dia yang telah Pergi..

June 26th, 2005 by gw-dewi

01_1  Sabtu.. 25 Juni 2005.. tepatnya jam 01.00… Sebuah sosok dalam kenanganku.. Yang biasanya ku panggil "Tante Rina.." kini telah pergi selamanya.

Berjuang melawan sebuah penyakit kanker payudara, aku tak tahu pasti sudah berlama perjuangannya.. Aku hanya beberapa kali bertemu, karna kebetulan beliau mengikuti suami bertugas dibeberapa daerah. Setiap kali mendengar suaranya sudah pasti.. orang semarang, logat jawa yg lemah lembut yang tidak pernah hilang darinya, ramah.. ceria.. Ibu dari 2 orang anak putra-putri, Bondan & Mia.. Om An namanya yg sering kupanggil, adalah suami dan ayah dari Bondan & Mia. Suami yang begitu baik, perhatian..yang selalu menemani disisi Tante Rina disaat-saat terakhirnya…

Yah ALLAH, maafkanlah semua kesalahannya, terimalah amal ibadahnya.. berikanlah tempat yang terbaik disisi-Mu.. yah ALLAH.

Berilah kekuatan lahir-bathin tuk keluarga yang ditinggalkannya.

Selamat jalan Tante Rina…

Kami yang jauh ini mohon maaf sedalam-dalamnya.. Belum sempat kami menjengukmu terutama menelponmu.. Belum sempat Faiz memelukmu..

Dalam tangis kedukaan

Aku berkeliling
berputar-putar
menangisi duka
mencari makna

Kakiku terasa sulit untuk kulangkahkan
Lidahku terasa hambar untuk merasakan
Tanganku terasa kram untuk berpegangan

Oh Penguasa Langit !

Diantara kekekalanmu;
mengapa tidak kau berikan
sejumput darinya padaku?

Diantara keelokanmu;
mengapa tidak kau pajangkan
diatas kulit hitamku?

Diantara kata-katamu;
mengapa tidak kau wahyukan
dalam gundah hatiku?

Diantara malammu;
mengapa tak kau selipkan
mimpi indah padaku?

Aku berkeliling
berputar-putar
menangisi duka
mencari makna

[Moyank]

Meneladani Allah Yang Mahaluas

June 26th, 2005 by gw-dewi



Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

Al-Waasi’ adalah satu sifat Allah yang tercantum dalam asma’ul husna, yang artinya adalah Allah Yang Mahaluas. Kata Al-Waasi’ tersusun dari huruf wau, syin, dan ‘ain. Setiap kata yang tersusun dari huruf-huruf ini menjadi antonim dari sempit atau sulit. Dari sini lahir makna-makna seperti "kaya", "mampu", "luas", "meliputi", "langkah panjang", dan sebagainya.

Allah adalah Dzat Yang Mahaluas. Luasnya kekuasaan Allah sungguh tidak terbatas, meliputi semua yang ada di langit dan di bumi. Allah Mahaluas Keagungan-Nya, sehingga Ia kuasa memuliakan siapa saja yang Ia kehendaki tanpa berkurang kemuliaan-Nya. Allah Mahaluas rezeki-Nya, sehingga Ia mampu memberikan karunia kepada semua makhluk tanpa berkurang sedikit pun kekayaan-Nya. Allah Mahaluas ilmu-Nya, sehingga Ia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaan-Nya sampai hal sekecil-kecilnya. Ia mengetahui lintasan hati setiap manusia. Ia mengetahui jalannya seekor semut hitam yang merayap di batu hitam saat tengah malam yang kelam.

Ternyata, luas-Nya Allah itu berbeda dengan luasnya manusia. Luasnya dalam pandangan manusia selalu dibatasi ukuran. Lapangan sepakbola itu luas, namun bisa dihitung dalam meter. Seorang profesor pasti memiliki ilmu yang luas, namun luasnya ilmu profesor pasti berbatas dan hanya pada satu segi. Luas dalam pandangan Allah tidak dibatasi ukuran atau dimensi waktu. Ia laitsa kamitslihi syai’un; tidak bisa diserupai makhluk. Intinya, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini ada dalam genggaman Allah. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di alam ini.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat Allah ini? Kita layak meniru sifat Allah ini dengan meluaskan ilmu, pengetahuan, dan wawasan dengan banyak menyimak, membaca, dan bergaul dengan para ulama. Makin luas ilmu kita, akan makin bijak pula kita, makin mudah menghadapi hidup, dan makin paham pula kita akan arah hidup. Keluasan ilmu dan pengetahuan akan memudahkan kita menyikapi masalah dengan cara tepat. Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

Dengan meneladani sifat Al-Waasi’ ini, kita pun harus belajar mengubah sudut pandang kita dalam hidup. Jangan memandang harta di atas segalanya. Harta memang rezeki dari Allah, tapi itu adalah tingkatan yang paling rendah. Kekayaan ilmu, kekayaan hati yang bersumber dari kekayaan iman jauh lebih tinggi di atas harta. Karena itu, kita jangan bangga dengan sesuatu yang rendah. Bukankah penjahat pun diberikan harta.

Yang tak kalah penting, kita pun harus memiliki keluasan hati. Suasana hati akan menentukan bahagia tidaknya hidup kita. Sehingga kita harus melatihnya agar senantiasa lapang. Berlatih untuk tidak mudah tersinggung, tidak mendramatisasi masalah, mudah memaafkan, dan menyadari bahwa yang dilakukan orang lain tidak akan selalu sesuai dengan kehendak kita, adalah sebagian cara untuk mendapatkan kelapangan hati. Makin luas sebuah lapangan, makin sulit terjadi gesekan. Ilustrasinya, di lapangan yang luas kita tidak takut dengan seekor tikus, kecoa, atau ular. Namun, akan beda rasanya jika kita bersama hewan-hewan tersebut di kamar kecil.

Rumusnya "2B2L" dapat pula dijadikan formula untuk menciptakan keluasan hati, terutama saat bergaul dengan orang lain. "B" pertama bijak terhadap kekurangan dan kesalahan, "B" kedua adalah berani mengakui kelebihan dan jasa orang lain. "L" pertama adalah melupakan jasa atau kebaikan diri. Dan "L" kedua adalah mampu melihat kekurangan dan kesalahan diri. Wallahu a’lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

Soto Padang

June 24th, 2005 by gw-dewi

Sotopadang Soto padang ini biasa di makan dengan nasi. Tapi kalau enggak pake nasipun gpp, enak juga.

Bahan:
600 gr daging
2 bh pekak
2 bh kapulaga
2 bh cengkeh
1 ltr air
minyak untuk menggoreng

Haluskan:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
3 cm kunyit
2 cm lengkuas
2 btg sereh, ambil bagian putihnya memarkan
4 lbr daun jeruk
2 lbr daun salam
garam dan merica secukupnya

Pelengkap:
50 gr soun rendam air panas sesuai petunjuk di bungkusan
perkedel
daun bawang, iris tipis
jeruk nipis
kerupuk merah
sambal goreng

Cara membuatnya:

Rebus daging dalam bumbu perebus hingga empuk. Angkat dari kaldu, potong tipis dan goreng hingga renyah. Tumis bumbu halus hingga harum masukkan kedalam kaldu, tambahkan cengkeh, kapulaga, daun jeruk, daun salam, sereh, garam dan merica. Masukkan daging kembali ke dalam kaldu dan didihkan.
Angkat dan sajikan dengan pelengkapnya.

Bumbu perebus daging:
2 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
1 sdt garam

Memupus Kedendaman

June 24th, 2005 by gw-dewi

”(Orang-orang bertakwa) yaitu mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Ali Imran [3]: 134).

Dendam adalah buah dari hati yang terluka, hati yang tersakiti, teraniaya, atau karena merasa terambil haknya. Wujud dendam yang paling nyata adalah kemarahan dan kebencian yang membludak. Bila dendam seseorang membara, maka dia akan mencari jalan untuk mencemarkan, mencoreng, atau kalau perlu mencelakakan orang yang didendaminya sampai binasa. Alangkah sengsaranya orang yang hatinya penuh dendam!

Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka doakanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang saleh. Mampukah kita melakukannya?

Doa orang yang dizalimi itu benar-benar mustajab. Sehingga ketika dizalimi, saat itu pula terbuka peluang doa kita terijabah. Sulit memang, tapi itulah penentu kemuliaan diri. Rasulullah SAW bersabda, "Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu".

Rasulullah SAW adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicacimaki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan.

Karena itu, siapa saja di antara kita yang hatinya terbelit kedendaman, ingatlah! Dendam hanya akan membawa kesengsaraan, menghancurkan kebahagiaan, merusak pikiran, dan harga diri kita. Yang paling mengerikan, dendam bisa menyeret kita pada panasnya api neraka. Na’udzubillah.

Bagaimana caranya agar kita tidak menjadi seorang pendendam, bahkan berubah menjadi seorang pemaaf seperti dicontohkan Rasulullah SAW? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, kita harus menyadari bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujuraat [49]: 10, "Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Allah)".

Pemahaman bahwa setiap orang bersaudara, sedikit banyak, akan membawa tambahan energi bagi kita dalam mengendalikan kemarahan dan rasa sakit hati. Bila konsep ini tertanam kokoh di hati, maka kita akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mencelakakan saudara kita.

Kedua, kita terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan.

Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kita terhadap Allah. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.

Bagaimana seandainya kita dicaci, dikritik, atau diserang orang dengan kata-kata yang tidak mengenakkan? Kuncinya evaluasi diri. Kita tidak akan pernah rugi diperlakukan apa pun oleh orang lain, jika kita menyikapinya dengan cara yang benar. Setelah mengevaluasi diri, kita perlu memperbaikinya. Balasan dan jawaban yang efektif adalah dengan akhlak yang baik. Kita dicemooh, dihina, dan diolok-olok orang lain, maka biarkan saja. Pada akhirnya, orang akan melihat siapa yang difitnah dan siapa yang memfitnah.

Jika kita menjadi lebih baik, Allah akan memuliakan kita. Jika Allah sudah memuliakan, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Balaslah keburukan orang lain dengan cara terbaik; Ifda’ billati hiya ahsan. Itulah kunci kemuliaan diri. Wallahu a’lam bish-shawab.

( KH Abdullah Gymnastiar )

Mendidik Anak dengan Mendidik Diri

June 24th, 2005 by gw-dewi

Anak harus diarahkan agar ia mampu mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Anak adalah karunia Allah yang "harganya" tidak dapat dinilai dengan uang. Demikian berharganya, orangtua dituntut untuk serius dalam membimbing dan mendidik mereka. Dan, mendidik anak tidak sekadar menjadikan mereka cerdas, kreatif, terampil, atau sehat secara fisik. Yang tak kalah penting adalah bagaimana menjadikan dia manusia berakhlak mulia.

Setidaknya, ada tiga akhlak mulia yang harus diajarkan pada anak, yang terangkum dalam rumus 3A. Yaitu: Aku Aman Bagimu, Aku Menyenangkan Bagimu, dan Aku Bermanfaat Bagimu. Pertama, Aku Aman Bagimu. Anak harus dilatih agar tidak merugikan orang lain. Sehebat apapun seorang anak, kalau kehadirannya selalu merugikan orang lain, maka kehebatan tersebut tidak ada artinya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim yang baik adalah yang orang lain aman dari gangguan lisan dan tangannya".

Karena itu, penyakit hati yang terangkum ke dalam kata TENGIL (Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri Dengki, Licik), harus benar-benar dijauhi. Kalau anak sudah terkena penyakit TENGIL, maka ia berpotensi menjadi manusia "berbahaya". Untuk menerapkan prinsip Aku Aman Bagimu, orangtua harus memulainya dengan menjadikan dirinya aman bagi anak-anak. Ciri berhasilnya orangtua menerapkan A yang pertama ini adalah saat anak mau curhat. Kalau anak tertutup atau tidak mau curhat, maka ada masalah dengan orangtuanya. Hal ini berpotensi melahirkan komunikasi yang tidak sehat di keluarga.

Setelah itu, pendidikan bisa dilanjutkan ke tahap kedua, yaitu Aku Menyenangkan Bagimu. Anak harus dilatih agar keberadaannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya merasa tenang dengan nyaman. Rumus yang bisa diterapkan dengan tahap kedua ini adalah 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Bimbing anak-anak kita menjadi orang yang murah senyum, royal memberi salam, gemar menyapa, sopan dan santun dalam bergaul.

A yang ketiga adalah Aku Bermanfaat Bagimu. Anak harus diarahkan agar di mana ia ada, maka orang-orang di sekitarnya merasakan manfaat keberadaannya. Jadi, anak harus diarahkan agar ia mampu mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Usahakan agar anak selalu berpikir bagaimana ia mampu memberi manfaat dan memberi manfaat. Kalau ia pintar, maka ia bisa memintarkan teman-temannya. Kalau ia kaya, maka kekayaannya tersebut bisa menjadi sarana membantu orang yang kesusahan.

Nah, kalau pikiran seseorang sudah diisi dengan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain, maka ia sudah sukses menapaki tahap ketiga dalam pendidikan. Tidak mudah memang untuk sampai pada tingkatan seperti ini. Setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah senang memperhatikan orang lain. "Ma, kasian ya anak itu…". Bila anak sudah senang memperhatikan orang lain, maka tanda-tanda kesuksesan sudah tampak di depannya. Tahap kedua adalah senang menghargai orang lain. Sedikit apapun kebaikan yang diberikan orang, si anak harus diajarkan untuk mengucapkan berterima kasih. Tahap ketiga adalah senang memberi, tidak pelit, dan gemar berbagi dengan teman-temannya. Tahap keempat adalah senang memberdayakan orang lain. Dan tahap kelima adalah adalah senang menyukseskan orang lain. Ibaratnya, tahap ketiga baru sebatas memberi ikan, tahap keempat (memberdayakan) adalah melatih agar terampil mencari ikan. Dan, pada tahap kelima (menyukseskan) berupaya menjadikan ia pengusaha ikan. Inilah puncak kemandirian.

Namun, saya jarang berpikir tentang kelakukan anak. Yang pertama kali dipikirkan adalah kelakukan ibu bapaknya. Karena itu, mendidik anak harus diawali dengan mendidik diri. Prinsip 3A sangat sulit sulit dilakukan anak kalau orangtuanya TENGIL. Jadi, karunia Allah untuk mendidik anak harus dimulai dengan mendidik diri. Wallahu a’lam bish-shawab.

( KH. Abdullah Gymnastiar )

Bersahabat dengan Anak

June 24th, 2005 by gw-dewi

Setiap anak pasti pasti akan berbuat salah. Tugas orangtua bukan untuk menyalahkan, tapi menyemangati agar mereka bisa bangkit dan memperbaiki kesalahannya.

Suatu hari Aa dan istri sempat dibuat cemas. Sebabnya, salah seorang anak laki-laki kami yang sudah beranjak remaja tidak pulang tepat waktu seperti biasanya. Padahal saat itu hari sudah malam. Tidak ada seorang pun orang rumah yang tahu ke mana ia pergi, termasuk para santri. Biasanya anak itu selalu meminta izin atau memberitahukan terlebih dulu bila hendak bepergian.

Alhamdulillah, beberapa saat setelah itu ia datang. Selidik punya selidik ternyata anak saya itu pergi bersama teman-temannya ke pasar Inpres untuk membeli makanan. Ingin rasanya saya marah. Tapi saya sadar bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan membuat masalah makin rumit.

Akhirnya saya mengajak dia berdialog. Ternyata dengan dialog yang dikemas secara santun dan tidak menghakimi, permasalahan bisa diselesaikan dengan baik. Anak mau terbuka, mau mengakui kesalahan, bahkan dengan kesadaran sendiri ia mau mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Saudaraku, kita harus selalu berlaku bijak dalam menyikapi perilaku anak-anak kita. Sebabnya, setiap fase pertumbuhan anak membutuhkan cara mendidik dan cara mengarahkan yang berbeda. Fase bayi tidak bisa didekati dengan pola pendidikan untuk usia tiga tahun. Begitupula pola pendidikan untuk anak usai tiga tahun tidak bisa dipakai untuk anak usia lima atau enam tahun. Demikian pula ketika mengadapi anak yang sudah remaja alias ABG.

Sebenarnya ada peran-peran tertentu yang harus dimainkan orangtua dalam mendidik anaknya. Menghadapi anak yang telah remaja misalnya, orangtua harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman. Jalin komunikasi dengan mereka layaknya kepada teman, karena anak seusia itu membutuhkan teman untuk berkomunikasi dan tempat curhat.

Bagaimana memulainya? Pertama, terapkanlah prinsip Aku Bukan Ancaman Bagimu saat berhubungan dengan anak. Hal ini sangat penting, karena seseorang berubah karena paham. Paham itu datang karena adanya komunikasi. Dan komunikasi itu akan baik kalau ada rasa aman. Bila anak sudah merasa aman atau nyaman berkomunikasi dengan kita, maka ia akan lebih terbuka. Ketika melakukan kesalahan, biasanya ia akan dengan sukarela mengaku pada orangtuanya. Sebaliknya, kalau mereka sudah takut dan merasa terancam, maka komunikasi pun tidak akan berlangsung baik. Karena itu, bertanyalah selalu, apakah anak-anak merasa aman berkomunikasi dengan kita atau tidak?

Kedua, ciptakan komunikasi suportif, menyemangati, dan tidak melemahkan. Setiap anak pasti akan berbuat salah. Dalam kondisi seperti ini posisi orangtua, idealnya, bukan sebagai pihak yang menyalahkan, tapi sebagai pihak yang menyemangati si anak agar bisa bangkit dan memperbaiki kesalahannya. Ingat kisah seorang anak yang mengadu pada bapaknya, "Maaf Pak, nilai saya empat". Lalu dijawab oleh Bapaknya, "Hah, empat? Hebat dong, Bapak dulu dapat 3,5. Bapak malu, tapi setelah itu jadi rajin belajar, berusaha belajar mati-matian. Eh setelah itu jadi bintang kelas. Ayo bangkit, belajar sunggung-sungguh!".

Ketiga, terbuka dan suka dikoreksi. Jangan malu mengakui kesalahan atau kekurangan diri. Jangan ragu untuk belajar pada anak, jika memang mereka memiliki ilmu yang belum kita miliki. "Ayo Nak, kasih masukan pada Bapak!". Maka, di sinilah pentingnya kita mengembangkan dialog yang jujur.

Tidak sedikit orangtua yang memaksakan anaknya untuk selalu menerima pendapat atau jalan pikiran sendiri. Bila berkomunikasi, tanpa sadar mereka menerapkan komunikasi satu arah; "saya bicara, kamu mendengar". Yang lebih tepat justru "kamu bicara, saya mendengar".

Sikap otoriter berpotensi menghancurkan harga diri anak. Bila dibiarkan berlarut-larut si anak akan memiliki pandangan negatif terhadap diri dan orangtuanya. Lebih fatal lagi, mereka bisa menunjukkan sikap melawan, baik secara terselubung maupun terang-terangan. Anak pun menjadi takut untuk mengambil keputusan, kurang percaya diri, mudah sakit, dan menjadi emosional akibat tekanan perasaan.

Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat, pendekatan demokratis dan terbuka jauh lebih bijaksana. Salah satu caranya adalah dengan membangun rasa saling pengertian, di mana masing-masing pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain. Di sini, lagi-lagi orangtua yang harus mengawali. Wallahu a’lam bish-shawab

( KH Abdullah Gymnastiar )